Ameer Ali, Membuka Pemikiran Muslim

LUKI AULIA-”Tidak ada fobia Islam, yang ada fobia Muslim, melihat tingkah laku Muslim yang kerap emosional dan terlalu sensitif menanggapi masalah apa pun akibat pikiran yang tertutup.” Pernyataan ini dilontarkan intelektual Islam moderat, Ameer Ali, yang ditemui di sela International Conference of Islamic Scholars atau ICIS, 29 Juli- 1 Agustus 2008, di Jakarta.Di era modern semestinya rasionalitas dan pikiran kritis dikedepankan sehingga tak ada lagi bentuk kekerasan apa pun yang terjadi akibat emosi tanpa dasar.

Pesan Ali untuk umat Muslim ini muncul dari keprihatinannya melihat banyak orang yang mulai berpaling dari Islam. Padahal, kata Ali, Allah SWT sama sekali tak membebankan kesulitan apa pun terhadap umat-Nya dalam menjalankan ajaran agama Islam. Ini ditegaskan dalam Al Quran Surah Al-Hajj Ayat 78: Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu agama yang membuatmu dalam kesempitan (wa jaahidu fil-laahi haqqa jihaadih. Huwajtabaakum wa maa ja’ala a’alikum fiddiini min harajin).

”Allah membuat Islam mudah dipahami dan diikuti. Tetapi, kenapa sebagian ulama justru membuatnya jadi sulit? Akibatnya, banyak yang menjauh dari Islam karena dirasa sulit menjadi Muslim,” kata Ali, Wakil Presiden Majelis Dakwah Islam Regional Asia Tenggara dan Pasifik (RISEAP) di Australia itu.

Berbagai bentuk kekerasan, terutama di negara Muslim, seakan menjadi trademark Islam bagi negara Barat. Akibatnya, gambaran tentang Islam dan Muslim menjadi serba penakutkan. Padahal, yang berada di balik segala bentuk kekerasan hanya segelintir Muslim yang berpandangan ekstrem.

Untuk memperbaiki citra Islam dan Muslim, Ali memberi ceramah dan dakwah mengenai Islam dan Muslim kepada siapa pun, termasuk untuk umat Nasrani di gereja-gereja Australia. Pertanyaan yang sering muncul, antara lain, arti jihad dan kondisi perempuan. Karena memiliki pandangan moderat, Ali yang pernah menjadi Presiden Dewan Islam Federasi Australia itu lantas ditunjuk menjadi Ketua Kelompok Referensi Komunitas Muslim pada era pemerintahan Perdana Menteri John Howard.

Ia lantas menjadi duta Australia ke berbagai dialog antaragama internasional untuk membuka mata dan pikiran Muslim, serta berusaha menyadarkan kembali pentingnya rasionalitas dalam memahami Islam dan menginterpretasikan Al Quran.

Menginterpretasikan kembali Al Quran sesuai dengan konteks dan zamannya, menurut Ali, menjadi kunci penting untuk membuka pikiran Muslim agar lebih kritis. Ketidakmampuan untuk menginterpretasikan Al Quran sesuai konteks dan waktunya hanya akan membuahkan fanatisme, pandangan ekstremis, dan emosional tanpa logika.

Padahal, Al Quran sebenarnya ada untuk memancing pemikiran kritis yang tidak asal menerima mentah-mentah kata-kata yang ada di dalamnya.Ali mengingatkan, ayat-ayat Al Quran diturunkan pada zaman Muhammad SAW sehingga isinya pun menyesuaikan dengan zaman itu. ”Kalau tidak tahu konteksnya, kita tidak akan tahu maksudnya. Kita harus mengkritisi dan menginterpretasi lebih lanjut isi Al Quran. Ini indahnya Al Quran,” ujar ayah dari dua anak ini. Pengetahuan modernPersoalannya, justru sebagian ulama tradisional juga yang menutup pikiran Muslim, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan pemikiran atau ajaran tradisional konvensional yang sudah ketinggalan zaman.

Banyak ulama tradisional tidak mendalami pengetahuan modern dan terpaku pada ajaran yang sama selama berabad-abad. Padahal, jika ditilik dari artinya, ulama semestinya seseorang yang memiliki pengetahuan luas dan tidak hanya terbatas pada pengetahuan agama. Jika seseorang ingin memahami Al Quran dengan baik dan lengkap sekaligus obyektif, dia harus mempunyai bekal latar belakang pemahaman ilmu sejarah, ekonomi, sosiologi, dan politik. Tren intelektual Islam yang sarat bekal ilmu pengetahuan lengkap dan modern seperti itu, kata Ali, justru lebih banyak muncul di negara-negara Barat.

Meskipun demikian, menurut pandangan Ali, hal ini wajar mengingat banyak intelektual Islam yang terpaksa migrasi ke Barat. Di tempat ini mereka justru mendapat kesempatan luas untuk berpikir, berekspresi, dan mengeluarkan pendapat. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila dikatakan kebangkitan generasi baru Muslim kemungkinan akan dimulai dari Barat. ”Kalau kita tidak mempunyai latar belakang pengetahuan yang lengkap, akan sangat sulit memahami Al Quran dan memecahkan misteri Allah yang ada di dalamnya,”
kata Ali. Misteri Allah yang ada di dalam Al Quran dimaksudkan untuk dibuka, dipecahkan, dipelajari, dan dikritisi. Al Quran adalah kitab untuk siapa pun pada segala zaman. Kitab yang bisa digunakan untuk menjelaskan berbagai macam hal apabila diinterpretasikan sesuai konteks dan zamannya.

Pendidikan Masalahnya, Al Quran sering kali justru terlalu dipuja, tetapi isinya tak
benar-benar dipahami. Ali menilai persoalan umat Muslim ada pada pendidikan.Minimnya pendidikan dan masih tingginya tingkat buta huruf di dunia Muslim, ditambah indoktrinasi selama berabad- abad oleh kelompok ortodoks, telah melumpuhkan kemampuan rasionalisasi. Karena itu, perlu ada pendidikan modern untuk mengembangkan daya pikir kritis agar bisa menganalisis persoalan dengan logis dan menghasilkan solusi praktis. ”Ini tidak ada pada sebagian ulama tradisional,” kata Ali.

Dia khawatir ulama tradisional justru akan memicu gerakan ekstremisme yang muncul akibat pikiran yang tertutup. Khotbah-khotbah di masjid, kata Ali, bisa berakibat buruk apabila ditelan mentah-mentah oleh Muslim yang pikirannya tertutup. Seharusnya khotbah-khotbah itu membahas isu-isu yang tengah hangat dan terkait dengan kehidupan sehari-hari. Imam juga diharapkan memberi semacam panduan bagi Muslim.”Saya yakin, sebagian ulama itu tak dengan sengaja membentuk pikiran ekstrem. Tetapi, isi khotbahnya yang sering kali memancing orang ke arah itu. Yang lebih parah, kita tak boleh membantah atau mengkritisi khotbah. Kita harus bisa menjaga anak-anak muda agar tidak sampai menelan ide yang keliru dan terjerumus dalam kekerasan,” kata Ali yang dikenal sebagai pakar ekonomi dan pembangunan di negara-negara Muslim.

Cara paling efektif untuk mengantisipasi hal itu adalah lewat pendidikan. Untuk mendukung pendidikan perlu suasana demokratis sehingga masyarakat bisa diberdayakan. Padahal, mayoritas negara Muslim belum mempraktikkan demokrasi.”Ini tantangan kita. Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kecuali kita mengubah diri sendiri. Caranya, dengan memberdayakan generasi muda dan wanita. Kita sudah tahu kelemahan kita dan akar masalahnya. Jangan salahkan orang lain, tetapi salahkan diri sendiri. Kita harus menjadi agen perubahan, tetapi harus ubah diri sendiri dulu,” kata Ali yang migrasi ke Australia pada 1977 karena alasan politik itu. http://cetak.kompas.com/sosok


  1. sufimuda

    Kita sering dibuat bingung melihat agama dan keberagamaan. Ketika terjadi peperangan, pengrusakan, penjarahan, Terorisme dan lain-lain, kita sering menuduh agama sebagai penyebabnya. Padahal agama hanyalah sebuah kumpulan doktrin-doktrin tentang kebenaran yang bersifat mutlak karena diturunkan oleh Yang Maha Sempurna, maka agama pun sempurna dan paripurna. Agama tidak pernah salah. yang salah adalah pengamal agama itu sendiri yang salah menafsirkan pesan-pesan yang disampaikan Tuhan lewat kitab-Nya.
    Islam tidak pernah bertentangan dengan dunia modern, yang bertentangan sebenarnya adalah pemeluk Islam sendiri yang mengambil penafsiran agama dari abad pertengahan yang belum beradab.
    Peran Ulama dalam menafsirkan kembali nilai-nilai agama sesuai dengan kondisi sekarang sangat diperlukan. Mudah-mudahan Ulama (baca MUI) tidak hanya sibuk mengurus “aliran sesat” yang banyak menguras fikiran dan tenaga.

  2. habibhasan

    Amin Allahuma amin….

  3. Dea

    Ameer Ali, artikel kompas, saya gunting artikelnya dan rencananya akan saya kirimkan ke teman saya.
    Sebaiknya para ulama pun harus membaca artikel ini !




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: