Sejumlah kontradiksi dalam cara berpikir Abu Bakar Ba’asyir

BARU-baru ini, kita membaca berita di sejumlah media tentang mundurnya Abu Bakar Ba’ayir dari organisasi di mana selama ini dia menjabat sebagai amir atau komandannya, yaitu Majelis Mujahidin
Indonesia (MMI). Alasan mundurnya Ba’asyir menarik sekali. Dia berpandangan bahwa sistem kepemimpinan yang dianut oleh MMI makin melenceng dari sunnah atau teladan Nabi Muhammad.

Dia mengatakan bahwa MMI selama ini memakai sistem kepemimpinan kolektif dan demokratis. Sistem itu, di mata Ba’ayir, tidak Islami. Orang-orang seperti Ba’asyir memandang demokrasi sebagai kafir, tidak Islami, tidak sesuai dengan sunnah Nabi.

Ba’asyir berencana mendirikan jama’ah atau organisasi baru yang di mata dia lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Dalam organisasi baru itu, Ba’asyir akan memakai sistem kepemimpinan yang lebih Islami, bukan sistem kepemimpinan demokratis yang pelan-pelan mulai diadopsi oleh MMI akhir-akhir ini.

Ada beberapa alternatif nama untuk organisasi baru yang hendak ia dirikan itu, misalnya: Jamaah Ansharussunah, Jamaah Ansharullah, Jamaah Muslimin Ansharullah, dan Jamaah Ansharuttauhid. Kalau kita jeli mengamati model-model gerakan Islam di berbagai negara Muslim saat ini, nama-nama itu sangat khas pada kelompok-kelompok yang sering disebut sebagai salafi, yaitu kelompok yang dengan gigih sekali ingin mencontoh teladan dan sunnah Nabi secara konsisten, ahkan fanatik sekali.

Saya menulis esei pendek ini bukan karena saya menganggap fenomena MMI atau Ba’asyir sebagai fenomena yang penting. Esei ini ingin menjukkan kontradiksi dalam cara berpikir dan “mindset”
orang-orang seperti Abu Bakar Ba’ayir itu. Saya berpendapat, metode gerakan yang dipakai oleh orang-orang Ba’asyir itu mengandung kontradiksi yang akut. Kalau mereka tidak bersikap apologetik dan pura-pura tak tahu, mereka mestinya menyadari sejumlah kontradiksi yang akan saya tunjukkan di bawah ini.

Metode gerakan seperi dipakai Ba’asyir itu juga rapuh dari dasarnya, sehingga cepat atau lambat, gerakan itu akan rontok sendiri. Ba’asyir hidup dengan sebuah “delusi” yang tak dia sadari.

Ba’asyir mengkleim bahwa ingin mendirikan organiasi baru yang lebih sesuai dengan sunnah Nabi. Betulkah kleim semacam itu? Apakah mungkin mendirikan organisasi baru dalam era modern ini tanpa melanggar prinsip mengikuti sunnah Nabi?

Organisasi baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, di mata saya, sudah pasti tidak akan sesuai dengan sunnah Nabi. Sebab pada zaman Nabi, tidak kenal sebuah entitas bernama organisasi-organisasi seperti yang akan dia dirikan itu. Pada zaman Nabi semua masyarakat hidup sebagai komunitas tunggal tanpa organisasi atau pengelompokan apapun. Begitu Ba’asyir mendirikan jamaah atau organisasi baru, persis pada saat itu dia meninggalkan sunnah Nabi.

Kalau mau lebih ekstrim lagi, kita bisa berkata bahwa eksperimen mendirikan pesantren Ngruki di Solo pun –yakni pesantren yang didirikan oleh beberapa tokoh Islam termasuk Ba’asyir itu– tidak
sesuai dengan sunnah Nabi jika dilihat secara cermat, sebab pada masa
Nabi tidak ada sekolah seperti dipraktekkan oleh pesantren dan madrasah
di Ngruki itu. Tidak ada sistem kelas, tidak ada sistem ujian, tidak
ada sistem ijazah, tidak ada sistem pendaftaran seperti kita saksikan
dalam semua praktek sekolah modern saat ini.

Orang-orang seperti Ba’asyir ini memakai logika dan cara berpikir yang aneh dan nyaris tak masuk akal.

Terhadap kritik ini, Ba’asyir boleh jadi menjawab: bahwa sistem pendidikan ala madrasah yang mengenai kelas-kelas itu tidak bisa dikatakan bertentangan dengan sunnah Nabi, sebab sistem itu menyangkut urusan duniawi, bukan masalah ibadah.

Persis di sini soalnya: bukankah soal pemilihan pemimpin, atau soal kepemimpinan secara umum, adalah masalah duniawi pula? Kenapa dia keluar dari MMI karena menganggap bahwa sistem kepemimpinan dalam organisasi itu tidak sesuai dengan sunnah Nabi? Kenapa dia tak membubarkan pesantren Ngruki saja, sebab pesantren itu juga memakai sistem yang tak ada pada atau dicontohkan oleh Nabi.

Ba’asyir mungkin beranggapan bahwa masalah kepemimpinan bukan soal duniawi, tetapi masalah keagamaan. Pertanyaannya, apakah Nabi memberikan petunjuk yang detil mengenai soal kepemimpinan ini dengan seluruh aspek-aspeknya? Kalau jelas ada petunjuk, kenapa sahabat-sahabat bertengkar hebat saat Nabi wafat, persis untuk memperebutkan kepemimpinan?

Bahkan jenazah Nabi tak sempat dikuburkan selama tiga hari, karena sahabat sibuk bertengkar tentang siapa yang menjadi pengganti Nabi dan bagaimana pula cara memilihnya.

PARADOKS lain yang menggelikan adalah bahwa Ba’asyir menolak mentah-mentah sistem demokrasi, tetapi dia menikmatinya sejak pertama kali menginjak bumi Indonesia setelah kembali dari pengasingan di
Malaysia selama bertahun-tahun (karena diusir oleh pemerintahan Presiden Suharto yang tak demokratis itu). Demokrasi di Indonesialah yang memungkinkan dia mendirikan organisasi seperti MMI, dan demokrasi itu pulalah yang menjamin hak dia nanti untuk mendirikan organisasi baru yang konon lebih sesuai dengan sunnah Nabi itu.

Kampanye dia selama ini untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia tak pernah diganggu oleh aparat keamanan justru karena di Indonesia ada sistem demokrasi. Dengan demikian, Ba’asyir mengecam demokrasi, seraya diam-diam menikmati “roti” demokrasi setiap saat tanpa memberi kredit apapun. Dalam hal ini, Ba’asyir tidak melaksanakan hadis yang terkenal, “man lam yasykur al-nas lam yasykur al-Lah”, barangsiapa tak mensyukuri manusia (yang terlah berbuat baik pada dia), maka dia sama saja tak mensyukuri Tuhan.

Ba’asyir menikmati roti demokrasi, tetapi dia tak pernah memberi kredit apapun pada sistem yang memberinya kebebasan itu. Dia malah mengencam sistem itu sebagai sistem kafir karena berasal dari Barat. Tindakan dia ini bertentangan dengan sunnah Nabi sebagaimana tercermin dalam hadis di atas.

Kalau konsisten dengan perlawanannya atas demokrasi, kenapa Ba’syir tak pindah ke negara Arab Saudi saja yang sama sekali tak menerapkan demokrasi? Saat dia diusir dari Indonesia pada awal 80an dulu, mestinya pada saat itu dia punya kesempatan untuk pindah ke negeri yang sama sekali tak menerapkan demokrasi. Eh, dia malah menungsi ke Malaysia yang juga, dalam tingkat tertentu, menerapkan demokrasi.

Setelah Indonesia makin demokratis paska tergulingnya Soeharto pada 1998, dia malah dia kembali ke Indonesia? Kenapa dia kembali ke negeri yang justru makin intensif mengalami proses demokratisasi? Apakah diam-diam Ba’asyir mencintai demokrasi, walau di mulut meluapkan kecaman pada sistem itu?

Mungkin Ba’asyir akan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya ini dengan mengatakan: Saya balik ke Indonesia karena saya mau menegakkan negara syari’ah! Saya mau mendirikan kekuasaan Tuhan, sistem yang ia sebut dengan istilah yang aneh sekali, yaitu “Allah-krasi”, yanni kekuasaan Allah sebagai lawan dari “demokrasi”, kekuasaan rakyat.

Pertama, sistem yang ia sebut sebagai Allah-krasi itu sendiri tidak pernah ada dalam sunnah atau dikatakan secara tegas oleh Nabi sendiri. Dalam hal ini, dia telah melanggar prinsip yang ia anut dengan gigih itu, yaitu hendak hidup sesuai seluruhnya dengan sunnah. Nabi sendiri tak pernah menyebut kekuasaan yang ia praktekkan di Madinah dulu sebagai Allah-krasi.

Kenapa dia menciptakan sesuatu yang tak ada dalam agama. Bukankah ini bid’ah, dan setiap bid’ah, sebagaimana ajaran yang diyakini oleh orang-orang semacam Ba’asyir ini akan membawa seseorang masuk neraka (kullu bid’atin dhalalah wa kullu dhalalatin fi al-nar). Akankah Ba’asyir masuk neraka karena menciptakan bid’ah Allah-krasi itu? Wallahu a’lam! Hanya Tuhan yang tahu.

Kedua, agar dia bisa memperjuangkan sistem Allah-krasi di Indonesia, dia tak bisa tidak butuh sebuah lingkungan politik yang memungkinkan perjuangan itu; dan itu, sekali lagi, adalah sistem demokrasi. Sebab, jika dia hidup di negeri yang tidak demokratis, sudah tentu dia tak akan bisa memperjuangkan idenya tersebut.

Jika Ba’asyir misalnya menetap di Saudi, dia sudah ditangkap dari sejak awal dan tak akan pernah keluar dari penjara, sebab dia mengampanyekan sistem yang menentang kekuasaan yang ada di sana. Hanya di negeri demokratis seperti Indonesialah dia bisa bergerak dengan leluasa. Bagaimana dia bisa mengecam sistem demokrasi yang telah memberinya hidup selama ini?

Paradoks yang lebih parah lagi dan mendasar adalah keinginan Ba’asyir mendirikan sebuah negara syari’ah, negara yang berlandaskan sistem Allah-krasi itu. Konsep negara itu sendiri tak dikenal secara eksplisit pada zaman Nabi. Nabi sendiri tak pernah menyebut komunitas di Madinah sebagai “daulah”
atau negara. Dalam Piadam Madinah yang terkenal itu, komunitas di Madinah hanya disebut sebagai “ummah” saja. Kata ummah di sana tidak terbatas pada umat Islam, tetapi juga umat-umat lain di luar Islam, termasuk Yahudi.

Kalau hendak konsisten mengikuti sunnah Nabi, tindakan Ba’asyir untuk menciptakan nama “negara” itu sendiri untuk menyebut sebuah komunitas yang hendak ia dirikan jelas tidak sesuai dengan teladan atau sunnah Nabi.

Kalau kita amati kelompok-kelompok Islam yang meneriakkan semboyan ingin hidup sesuai dengan sunnah dan teladan Nabi, ada semacam pola yang menarik. Pola ini terjadi di tanah Arab sendiri, dan terjadi pula (atau tepatnya ditiru?) di Indonesia dan negeri-negeri lain di luar Arab. Yaitu, mereka ini cenderung terlibat dalam pertengkaran internal yang tak pernah selesai. Pesoalannya sepel: masing-masing kelompok menuduh yang lain sebagai menyimpang dari atau kurang konsisten dengan
sunnah, dan menganggap merekalah yang paling konsisten mengikutinya.

Inilah yang kita lihat pada kasus perpecahan dalam tubuh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) sekarang ini. Perpecahan ini juga kita lihat dalam kelompok-kelompok salafi yang lain di sejumlah kota di Indonesia.
Pengalaman ini sudah pernah kita saksikan pada Partai Komunis dulu; masing-masing faksi menganggap dirinya paling “ortodoks” dan menuduh yang lain “reformis”. Sejumlah kontradiksi dalam cara berpikir Abu Bakar Ba’asyir

Ba’asyir keluar dari MMI karena merasa organisasi itu dikelola dengan prinsip yang tak seusai dengan sunnah Nabi. Saya memprediksi, kelompok baru yang akan didirikan oleh Ba’asyir itu, suatu saat juga akan pecah lagi karena pada gilirannya nanti akan ada kelompok yang merasa lebih konsisten pada sunnah ketimbang yang lain. Begitu seterusnya.

Deskripsi yang tepat untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang mengkleim paling mengikuti sunnah ini adalah sebuah ayat dalam Quran, tahsabuhum jam’an wa qulubuhum syatta; engkau melihat mereka seolah-olah bersatu (di bawah ide mengikuti sunnah Nabi), tetapi hati mereka seungguhnya saling terpecah-belah. Dengan kata lain, gerakan ini sebenarnya rapuh di dalam, persis karena terlalu menekankan “kesucian” gerakan, purifikasi, dan tidak belajar untuk kompromi dan akomodatif dengan keadaan yang terus berubah.

Watak gerakan puritan di mana-mana selalu mengandung resko perpecahan internal. Jika kita mau belajar lebih jauh lagi, perpecahan dalam tubuh umat Islam selama ini terjadi persis karena dorongan “puritan” itu, yakni masing-masing kelompok merasa paling sesuai dengan Quran dan sunnah. Dengan sikap “sok benar” sendiri itu, mereka dengan mudah menuduh gerakan yang lain kafir, sesat, murtad, syirik, dsb.

Paradoks seperti dihadapi oleh Ba’asyir ini semestinya menjadi pelajaran bagi kelompok-kelompok Islam yang lain. Di mata saya, metode perjuangan Islam ala Ba’asyir sudah mentok dan tak akan membawa umat Islam ke mana-mana. Sangat keterlaluan jika ada orang-orang yang masih percaya atau “terkelabui” oleh tokoh dan metode perjuangan seperti ini.

Penangkal paling manjur agar umat Islam tak terkecoh oleh retorika orang-orang semacam Ba’asyir ini adalah nalar yang sehat dan kritis. Umat seharusnya diajarkan bagaimana berpikir secara kritis dan berani
mempertanyakan kleim-kleim kosong yang diajukan oleh tokoh seperti Abu Bakar Ba’asyir itu.[]

Ulil Abshar Abdalla


  1. heterogenitas dalam berfikir itu manusiawi koq
    ada yang merasa pintar sendiri…

  2. hudi

    Gandhi said of the revolutionary, “First they ignore
    you. Then, they laugh at you. Then, they fight you. Then,
    you win.”

  3. logic

    inilah contoh orang yang memandang islam secara salah. membela terorisme secara tak langsung dan tak pernah bisa berfikir jernih. Saya meyakini sebenarnya beliau ini bertuhankan Muhammad….
    salam
    logic

  4. logic

    mempercayai hadist2 buatan manusia sebenarnya kontraproduktif dalam istilah sesungguhnya, selain bukunya tebel2, menggunakan metodology yang entah dari mana datangnya, menherumuskan umat ke dalam dogmatisasi agama….
    Tapi eits, mereka gak mau dibilang begitu hehehe, jadi ya memang kontra, kontra produktif, kontra fikiran sehat, kontra kemajuan, banyak deh
    salam
    logic

  5. heulang

    contoh orang yang memakai akal tapi ingkar sunnah ,dan prustasi dalam beragama,

    friday, January 18, 2008
    Muslim Masuk Kristen (Muhammad – Malaysia)

    Assalamualaikum. Nama saya Muhammad, saya seorang anak Malaysia, sama seperti ibu-bapa saya yang beragama Islam. Sejak saya di bangku sekolah rendah lagi, orang-tua saya telah hantar saya belajar mengaji al-Quran. Saya telah pun berkhatam al-Quran semasa saya di sekolah rendah.

    Kedua-dua orang-tua saya merupakan pengikut Islam yang warak. Di bawah pengaruh mereka, saya telah mendalami pengetahuan Islam saya secara intensif sehingga berumur 17 tahun, sampai umur itu, ilmu keIslaman saya boleh kira cukup mantap bagi seorang Muslim yang berpengetahuan.

    Walau pun begitu, oleh kerana latihan yang telah saya mengalami, dan latar-belakang saya suka mencari ilmu pengetahuan daripada sumber-sumber yang wajar, saya sentiasa bertanya-tanya serta bersoal-siasat apa-apa saja yang mengambil perhatian atau mengangkap minat minda saya. Termasuk hal-hal keagamaan dan Islam. Oleh sebab itulah, saya telah memiliki banyak buku-buku ilmiah, kebanyakannya dalam Bahasa Inggeris.

    Oleh kerana sikap saya yang suka siasat dan selidiki segala-galanya yang mengembangkan fikiran saya, saya juga telah menujukan secukup banyak soalan terhadap agama Islam sendiri. Semasa saya berada di negeri Pulau Pinang, minat saya mencari jawapan untuk soalan-soalan saya semakin meningkat. Saya telah bergaul dengan umat intelektual Muslim yang miliki minat ilmiah yang sama seperti saya. Di sanalah saya telah bertemu dan bergaul dengan kumpulan Islam “Anti-Hadith”, dan mereka telah banyak menolong saya memahami dan menolak kejanggalan dan kebatilan yang ada dalam ajaran dan Sunnah Islam.

    Secara khususnya, saya telah mengalami kemusykilan dan banyak sekali keraguan tentang ajaran-ajaran yang dipelopori serta arahan-arahan yang dianjurkan di dalam Kitab-kitab Hadith, termasuk koleksi Hadith-hadith yang digelar ‘Sahih’. Walau pun umat Islam gelarkan koleksi-koleksi ini sebagai ‘Sahih’ konon, saya amat kecewa apabila saya mendalami kajian saya dalam bidang tersebut! Setelah membaca dan menelaah ajaran-ajaran yang dikandung di dalam Hadith serta tulisan-tulisan Muslim mengenainya, semakin kurang masuk akal saya mendapati ajaran-ajaran mereka. Saya akan memberi beberapa contoh Hadith tersebut.

    Beberapa contoh kemusykilan dan kesangsian dalam Hadith-hadith Sahih Islam adalah seperti berikut.

    1) Air kencing unta adalah ubat untuk sakit-penyakit manusia, dan boleh dipakai sebagai ubat!

    – Hadith sahih Bukhari Jilid (Volume) 7 nombor 590

    – Hadith sahih Muslim jilid 3, nombor 4130.

    Ini merupakan anjuran dan ajaran Islam yang sangat janggal sekali. Manakah bukti saintifik dan kesihatan bahawa air kencing unta telah benar-benar berhasil dan berguna sebagai penawar?

    2) Syaitan dan iblis tidur atau menginap di dalam lubang hidung manusia

    – Hadith Bukhari jilid 4, nombor 516

    – Hadith Muslim jilid 1, nombor 462.

    3) Anjing yang berwarna hitam adalah iblis dan syaitan dan mereka harus dibunuh, dan kononnya mereka juga berupaya
    membatalkan solat umat Muslim!

    – Hadith Muslim jilid 1, nombor 1032

    – Hadith Muslim jilid 3, nombor 3809-3829.

    Diskriminasi yang tidak berasas ke atas anjing berwarna hitam! Lagi pun, ajarannya bahawa anjing hitam ialah
    iblis/syaitan, adalah tidak benar dan ialah kekarutan sama sekali!

    4) Sayap kiri seekor lalat beracun, dan sayap kanannya ada penawarnya!

    – Hadith Bukhari jilid 7, nombor 673.

    Hadith ini dengan cukup terus-terang sangat janggal dan tidak masuk akal. Lebih-lebih lagi, bertentangan secara
    langsung dengan kebenaran dan fakta-fakta saintifik!

    5) Memakan Bawang putih dilarang bagi orang Islam, dan mereka tidak boleh masuki masjid jika orang Muslim telah
    memakan bawang putih!

    – Hadith Bukhari jilid 5, no. 526

    – Hadith Bukhari jilid 1, no.812, 813.

    Apakah salahnya dengan Bawang Putih, padahal secara saintifik sudah terbukti nilai-nilai kesihatannya untuk manusia yang banyak sekali.

    6) Kebanyakan penghuni dan ahli neraka adalah jiwa-jiwa wanita!

    – Hadith Bukhari jilid 8, 456, 544.

    Kenapa berdiskriminasi terhadap kaum wanita dengan cara tidak munasabah seperti ini?

    7) Dilarang kencing atau membuang air kecil ke dalam lubang/rongga dalam tanah. Lubang-lubang itu kononnya
    adalah tempat tinggal jin-jin tertentu!

    – Sunan Abu Daud Jilid 1 (Fasal 16), Nombor 29.

    Rongga dan lubang dalam tanah adalah cara yang paling praktikal dan lazim diamalkan di serata dunia untuk membuang air. Tidak ada lapuran dari mana-mana tempat di dunia yang mana manusia telah pernah melihat jin keluar dari mana-mana lubang buang air tersebut! Ini merupakan satu lagi kekarutan yang dipelopori oleh Hadith sahih.

    Anda juga boleh membaca tentang kejanggalan Hadith-hadith yang Sahih dalam agama Islam dari link dibawah ini:

    Macam-macam Kepelikan!

    Sebenarnya, rakan-rakan Islam saya mendapati bahawa arahan-arahan dan saranan Hadith seperti di atas, semuanya adalah sejajar dengan kurafat (superstitions) yang telah dijadikan kewajiban bagi umat Islam untuk mematuhi, mahu tidak mahu, secara paksa! Maklumlah, semua Hadith ini ditolak keseluruhannya oleh kumpulan Islam Anti-Hadith tersebut!

    Hasil daripada kekhuatiran dan kesangsian akan Hadith-hadith ‘Sahih’ itu, saya telah semakin kecewa terhadap agama Islam yang telah saya anuti dari umur yang cukup muda lagi!

    Selain daripada itu, saya juga telah pergi ke luar negara untuk melanjutkan pendidikan saya. Di negara asing saya telah bertemu dan bergaul dengan ahli-ahli cerdik pandai Islam serta ulamak-ulamak Islam yang alim. Saya pun minat sekali berbincang-bincang dengan mereka, terutama sekali tentang hal-hal keagamaan.

    Mereka telah mengejutkan saya lagi apabila ada di kalangan mereka juga terdapat ulamak yang mempersoalkan Hadith-hadith sahih dan kewibawaan Hadith habis-habis! Bukan sahaja pada setakat itu, malah ada ulamak-ulamak, cendekiawan dan tokoh Islam dari antara mereka yang mempersoalkan Al-Quran dan kesahihan kandungannya! Bagi mereka, terdapat juga cukup banyak kejanggalan serta percanggahan dan kepalsuan sejarah di dalam al-Quran sehingga menjadi kecurigaan serta tanda-tanya besar kepada kewibawaan kitab itu!

    Di bawah sini kami memberikan link kepada beberapa makalah-makalah ilmiah yang membentangkan masalah dan tanda-tanya serta kecurigaan dan kemusykilan ke atas kitab umat Muslim – al-Quran! Ada juga kecurigaan yang telah dibawa oleh tokoh dan para ILMUWAN ISLAM sendiri!

    Permasalahan dan Percanggahan di dalam al-Quran

    Mushaf-mushaf Yang Hilang

    Sifat-sifat Firman Tuhan yang Murni

    “Ilmu Sains” al-Quran… Dan

    Surah 30 ar-Rum- Satu Penilaian Semula

    Setelah bergumul cukup lama secara intelektual dan rohaniah dengan kecurigaan dan keraguan saya tentang kandungan al-Quran itu, saya telah pun menganalisa dengan lebih mendalam lagi tentang percanggahan-percanggahan yang terdapat di dalamnya. Syak wasangka saya terhadap Kitab al-Quran semakin menjadi batu sandungan kepada saya; akibat percanggahan-percanggahan serta kesilapan fakta-fakta sejarah yang jelas terdapat di dalam al-Quran. Walau pun saya telah mendalami kajian saya dengan menelaah karya-karya tokoh-tokoh dan pujangga Islam yang ortodoks. Akhirnya, saya telah kecewa mengesahkan kebenaran al-Quran, akibat kekecewaan ini saya telah mulai mengkaji Kitab Bible (Al-Kitab) umat Sayidina Isa Al-Masih yakni, umat Kristian.

    Saya telah memperolehi sebuah Al-Kitab/Bible dan menyelidikinya sedalam-dalamnya dan dari permulaannya sehingga penghabisan fasal-fasalnya. Walau pun dalam Quran terdapat lebih daripada 100 rujukan kepada Sayidina Isa A.M..mereka tidak selengkap riwayat Baginda seperti yang terdapat di dalam Kitab Suci Injil! Jadi, saya telah bermula menyelidiki Kisah Hidup dan riwayat Sayidina Isa Al-Masih dengan sikap yang baru serta dengan ‘kacamata’ yang tidak dicemari oleh pra-sangka dan salah-tafsiran keislaman saya yang dahulu! Saudaraku, saya syorkan kepada anda – abaikanlah pra-sangka-pra-sangka anda serta sikap-sikap negatif anda terhadap Kitab Injil dan ajaran umat Kristian. Maklumlah, al-Quran sendiri telah mengarahkan umat Islam dari Surah 10 Yunus 94 seperti berikut:

    “Jika engkau (Muhammad) syak wasangka tentang apa yang Kami (Tuhan Allah) turunkan, hendaklah engkau tanyakan kepada mereka yang membaca Kitab sebelum engkau (yakni umat Kristian dan Yahudi).Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu..”

    Jelaslah, al-Quran sendiri TIDAK menuduh umat Kristian telah ‘mengubahsuai’ kitab-kitab mereka, tetapi, sebaliknya menyarankan kepada umat nabi Muhammad (umat Islam) supaya merujuk kepada umat Kristian yang telah memiliki Kitab Suci Injil mereka lebih awal daripada umat Islam! Sesungguhnya, Quran sekali lagi menganjurkan umat Kristian dan Yahudi dari Surah al-Maidah 5 ayat 68 :

    “Hai Ahli-ahli Kitab, kamu bukan atas suatu KEBENARAN, kecuali kamu turut kitab TAURAT dan INJIL dan apa-apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu..”

    Allah Sendiri telah bersabda tentang kedatangan al-Quran dan perhubungannya dengan Kitab-kitab yang lebih awal daripadanya, dari Surah Ali Imran 3 ayat 3, seperti berikut :

    “Dia [Allah] menurunkan Kitab Quran kepada engkau ya Muhammad, dengan sebenarnya, serta MEMBENARKAN Kitab-kitab yang sebelumnya, dan Dia telah menurunkan TAURAT dan INJIL..”

    Apabila saya membuka Kitab Suci Injil dan mulai menelaahnya, saya terasa terharu dan perasaan nyaman dan sejahtera mula melanda saya! Begitu enak dan seronok sekali pengkajian Al-Kitab/Kitab Suci Injil saya itu! Sambil saya membaca kandungannya, saya terserempak dengan ayat-ayat indah seperti berikut :

    “Berbahagialah orang yang lemah-lembut,
    Kerana mereka akan memiliki bumi.
    Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
    Kerana mereka makan dipuaskan”

    Injil, Matius 5 : 5 – 6

    “Berbahagialah orang yang murah hatinya,
    Kerana mereka akan beroleh kemurahan.
    Berbahagialah orang yang suci hatinya
    Kerana mereka akan melihat Allah.”

    Injil, Matius 5 : 7 – 8

    Begitulah indahnya kata-kata dan sabda Sayidina Isa semasa Baginda mengajari para hawariyunnya dan pengikutnya yang lain semasa di atas Bumi ini lebih 2,000 Tahun yang lalu! Selain daripada itu, saya juga terbaca kata-kata Sayidina Isa Al-Masih mejelaskan tentang diri-Nya sendiri dalam Nas Injil seperti berikut:

    “Kamu tidak percaya, waktu Aku [Sayidina Isa Al-Masih] berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal syurgawi ?

    “Tidak ada seorang pun yang telah naik ke syurga, selain dari pada DIA yang telah TURUN DARI SYURGA, YAITU ANAK MANUSIA [SAYIDINA ISA SENDIRI].”

    Injil, Yohanes 3 : 12 – 13

    Tentang isu “Roti Hidup’ pula, Sayidina Isa telah bersabda seperti berikut:

    ‘Maka kata Isa kepada mereka : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan sayidina Musa yang memberikan kamu roti dari Syurga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari syurga..
    “Kerana Roti yang dari Allah IALAH ROTI YANG TURUN DARI SYURGA dan memberi hidup kepada dunia.” Maka kata mereka kepada Baginda : ‘Junjungan, berikanlah kami roti itu senantiasa.’

    ‘Jawab Isa Al-Masih kepada mereka, “AKULAH ROTI HIDUP, DAN BARANGSIAPA DATANG KEPADA-KU DIA TIDAK AKAN LAPAR LAGI, DAN BARANGSIAPA PERCAYA KEPADA-KU, TIDAK AKAN HAUS LAGI. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, dia tidak akan Kubuang.”

    “Sebab AKU TELAH TURUN DARI SYURGA,.Untuk melakukan kehendak Allah..Dan INILAH kehendak ALLAH: – Yaitu supaya SETIAP ORANG YANG MELIHAT KEPADA AKU, DAN PERCAYA KEPADA-KU, BEROLEH HIDUP YANG KEKAL, dan supaya AKU MEMBANGKITKANNYA PADA AKHIR ZAMAN.”

    “AKULAH ROTI HIDUP…YANG TURUN DARI SYURGA: BARANGSIAPA YANG MAKAN DARIPADANYA, DIA TIDAK AKAN MATI,

    “AKULAH ROTI HIDUP YANG TELAH TURUN DARI SYURGA, Jikalau seorang makan dari Roti ini, DIA AKAN HIDUP SELAMAN-LAMANYA..!”

    Injil, Yohanes 6 : 32 – 40

    Sudah sangatlah jelas dan ketara bagi saya, siapalah Sayidina Isa Al-Masih itu! Baginda adalah Firman Allah -”LOGOS” – Yohanes 1 : 1 dan “Kalimatullah” yang hidup itu, yang telah TURUN ke Dunia ini untuk mengkhabarkan Berita Baik Allah Ta’ala kepada kita! Ini juga adalah benar daripada nas Al-Quran; Surah Ali-Imran 3 ayat 45..:

    “Allah telah menghibur Mariam tentang Kalimat yang daripada-Nya (Kalimatullah), namaNya adalah Al-Masih Isa Putera Maryam. Yang mempunyai kebesaran di Dunia dan di Akhirat dan termasuk orang-orang yang terdekat dengan Allah.”

    Surah 3/45

    Pada hari ini, saya dan seisi keluarga saya sudah pun memeluki dan mengikuti ajaran dan utusan Sayidina Rabbani Isa Al-Masih yang sejati itu dengan sebulat hati dan jiwa. Kami tahu DAN pasti masa depan kami adalah di alam Syurga dan Jannah bersama-sama dengan Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang itu! Kerana Kalimat-Nya Sendiri telah turun – Nuzul dan menjadi ‘Anak Manusia’ yang sempurna lagi sejati itu. Baginda telah lakukan peristiwa ini, lebih 2,000 tahun lalu supaya segala ciptaan-Nya yang amat dikasihi-Nya, dapat kenal dan nikmati Kasih dan Sayang, Ar-rahman dan Ar-rahim Allah yang hakiki dan sejati secara peribadi!

    Saudaraku yang sangat dikasihi oleh Sayidina Isa Al-Masih, saya mengundang anda menelitilah utusan dan Risalah yang dibawakan oleh Sayidina Isa itu seperti mana ditampilkan di dalam Kitab Suci Injil-dengan minda yang bebas daripada pra-sangka dan prejudis anda sebagai seorang Islam. Tuhan Sendiri akan mengkabulkan pencarian anda yang ikhlas anda dengan ganjaran yang manusia sendiri tidak dapat memberikan – yaitu kehidupan yang kekal abadi disisi Allah swt Sendiri, untuk selama-lamanya!

    Semoga Allah memberkati anda dengan taufik dan hidayah-Nya yang sejati! Halleluya!!Alhamdulillah!

    Diposting oleh Pedson di 8:46 PM




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: