MUI Ditunggangi Islam Radikal

Jakarta, wahidinstitute.org
Menguatnya peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam berbagai kasus kekerasan terhadap aliran-aliran yang dianggap sesat akhir-akhir ini dikarenakan lembaga ini telah dikuasai gerakan-gerakan Islam garis keras.

“Ada indikasi MUI menjadi kuda tunggangan kelompok-kelompok radikal untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok yang dianggap sesat”.

Demikian diungkapkan Dr. Rumadi, MA ketika menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Metamorfosis MUI” di kantor The Wahid Institute, Jl. Taman Amir Hamzah, Jakarta, Jumat (18/07/2008). Hadir juga sebagai pembicara Moch. Nur Ikhwan, Ph. D, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalidjaga Yogyakarta.

Dalam kesempatan ini, Rumadi juga melaporkan hasil riset The Wahid Institute selama satu tahun mengenai kasus-kasus terkait masalah-masalah keagamaan di berbagai tempat yang diterbitkan dalam buletin bulanan “Monthly Report on Religious Issues”. Dalam riset yang dilakukan dari bulan Juli 2007 hingga Juni 2008 ini, telah terjadi sedikitnya 109 kasus keagamaan yang terbagi dalam enam kategori kasus.

“Kasus-kasus terkait kekerasan berbasis agama ada 39 kasus, terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan 28 kasus, terkait kebebasan menjalankan agama dan keyakinan ada 9 kasus, terkait isu hak sipil warga negara ada 8 kasus. Ada juga yang berkaitan dengan kebebasn berpikir dan berekspresi ada 11 kasus dan terkait isu-isu moralitas ada 14 kasus” jelas Rumadi.

Yang menarik lanjut Rumadi, dalam sebagian besar kasus di atas, MUI selalu menjadi aktor utama terutama terkait kasus penyesatan terhadap aliran keagamaan tertentu di berbagai daerah, “Memang tidak semua eksponen MUI mempunyai pikiran seperti itu (menyesatkan kelompok lain). Namun trend MUI menjadi polisi agama menguat dimana-mana” jelasnya.

Fakta ini selain menunjukkan MUI semakin “bergigi” lanjut dosen UIN Jakarta ini, hal ini juga menandakan menguatnya pengaruh kelompok fundamentalis dalam institusi yang didirikan rezim Orde Baru ini.

Sinyalemen ini dikuatkan Moch. Nur Ikhwan. Menurut peneliti yang tengah menyelesaikan riset tentang MUI ini, gejala menguatnya pengaruh gerakan-gerakan Islam akhir-akhir ini telah merubah karakter MUI menjadi lebih aktif meneliti isu-isu keagamaan di masyarakat. Langkah-langkah yang diambil institusi ulama ini banyak dipengaruhi faktor eksternal tersebut.

“Karena kebanyakan MUI sangat pasif, perubahan terjadi karena ada pressure group, ada faktor eksternal yang memaksa MUI kemudian bergerak. Ini tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga di tingkat nasional” jelasnya.

Ikhwan menduga, penetrasi gerakan-gerakan Islam ini dimulai pada tehun 2005 ketika gerakan-gerakan ini masuk di dalam Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI), farum ini ada dibawah MUI. Dilembaga ini mereka sangat vokal menyuarakan aspirasinya karena jumlah perwakilannya lebih banyak. “Mereka menciptakan organisasi-organisasi kecil dan jumlahnya banyak. Sehingga organisasi semacam NU dan Muhammadiyah kalah oleh organisasi kecil-kecil yang jumlah anggotanya banyak di FUI” beber Ikhwan.

Bukti yang menunjukkan kuatnya pengaruh gerakan Islam ini lanjut doktor dari Leiden University ini nampak dari agenda MUI beberapa tahun terakhir yang getol melakukan reislamisasi ruang publik, yakni sebuah agenda merebut makna Islam agar sesuai dengan persepsi MUI sendiri.

Dalam agenda ini, ada lima aspek yang menjadi sorotan utama MUI: Pertama, menjaga moralitas publik dimana isu-isu ponografhy masuk dalam kategori ini. Kedua, menjaga akidah ummat dari praktek pemurtadan, pendangkalan akidah dan aliran sesat. Ketiga, melakukan islamisasi dalam bidang ekonomi yang tercermin dalam dukungan besar MUI terhadap berkembangnya bank-bank syari’ah. Keempat, melakukan kontrol terhadap produk halal. Dan kelima, mendukung formalisasi syari’at islam yang terimplementasi dalam bentuk Peraturan-Peraturan Daerah (Perda) bernuansa agama.

Pengaruh lain lanjut Ikhwan, terlihat dari strategi gerakan MUI saat ini. Menurutnya, ada perubahan strategi yang dulu hanya mengeluarkan fatwa, sekarang ditindaklanjuti dengan lengkah-langkah yang lebih kongkrit dalam bentuk advokasi agar fatwa itu menjadi kebijakan pemerintah atau bahkan menjadi undang-undang.

“Karena itu, mereka juga melakukan drafting, melakukan loby dengan pemerintah. Bahkan dengan masuknya Kyai Ma’ruf Amin menjadi penasehat presiden (Wantimpres) itu juga merupakan media untuk mendapat akses kepada Pemerintah SBY” jelasnya.

Hal ini yang menurutnya hampir tidak dimiliki gerakan-gerakan islam progresif sekarang. “Kalau zaman dulu kita masih punya Muslim Abdurrahman atau Djohan Efendi yang punya akses ke Dapag, sekarang kita hampir tidak punya akses ke sana” pungkasnya.

http://www.wahidinstitute.org/indonesia/content/view/784/52/


  1. Hudi

    Ulama itu pewaris Rasulullah SAW (Nabi), yang diwariskan yang ajaran Islam yang menyeluruh, sudah sepatutnya MUI berjalan di atas relnya. Kalau ditunggangi Islam radikal yang notabene agar tetap setia pada Al-Quran dan Sunnah, saya kira itu lebih baik.

    Daripada ditunggangi oleh Islam Liberal nanti malah menghalalkan pornografi, Homo seksual, aliran sesat dsb.

    Hudi

  2. rian

    MUI itu tidak merepresentasikan seluruh kelompok Islam di Indonesia, jadi nggak bisa dibilang mewakili umat Islam di Indonesia, mana ada kelompok Syiah or Ahmadiyah disana… yang ada Kelompok-kelompok Islam Anasionalis.

    MUI juga makan pajak yang saya bayarkan… Walaupun saya Islam, saya ga rela pajak yang saya bayar dibuat foya-foya MUI dengan ngeluarin fatwa-fatwa sesat buat kelompok minoritas. Buat pemerintah bertindaklah yang adil… masa cuma MUI yang dikasih kantor baru 9 milyar, kasih juga dong WALUBI, PGI dan agama lain yang diakui.

    Jadi terserah, mau MUI dirombak susunan anggotanya agar juga memasukkan kelompok Islam minoritas. Atau anggarannya dari APBN-nya dicabut, label halal juga dikembalikan ke POM Depkes… Coba kita lihat sampai kapan MUI bisa hidup mandiri!!

    Atau DIBUBARKAN!!!

  3. nara sabila

    “MUI sekarang GAk OMPONG LAGI…!!!”.

    Buanggaa to..! Kapan lagi kalo gak hari ini. mustinya semua umat Islam di Indonesia juga ngerasa begitu kan! lha wong sudah sejak lama kita ndak dianggep sama pemerintah, walopun kita disini berbanyak tapi sepertinya hanya dijadikan sebagai santapan aja sama orang2 yang benci sama Islam.

    Makanya…. hebring euy..! bisa liat MUI lebih b’rasa seharusnya MUI..^_^
    kalo ada yg ngomong bahwa there’s Kelompok Islam garis keras lah, militan lah.. itu cuman trik mereka aja untuk mecah belah umat Islam. Jangan terpancing, karena itu siasat musuh2 Islam.

    MUI….MAJU TERUS PANTANG MUNDUR, ISLAM YES…MUI YES….!

  4. rian

    MUI itu selamanya organisasi amplop Mbak Nara… fatwanya itu banyak titipan dari sana-sini. Liat aja fatwa-fatwanya… makin kesini makin nggak mutu.

    Coba pikir kenapa?
    Kalo saya bilang sih karena MUI itu benalu… nggak mandiri. Maaf-maaf aja yah! Coba MUI bisa membiayai diri sendiri, bikin iuran or punya unit usaha sendiri pasti nggak akan kaya sekarang.

    Jadi mari kita MANDIRIKAN MUI! Cabut anggaran APBN-nya… pindahkan kewajiban LABEL HALAL ke POM Depkes atau perbolehkan organisasi Islam lain untuk buat unit serupa.

    • anti liberal

      lho2 …mas rian masih untung ” titipanya ” dari orang islam (itupun kalo bener) ,daripada titipanya dari kafir amerika cs….lebih bahaya lagi, dana orang liberal dari negeri kufur paman sam cs khan????

  5. lihatcermin

    lha lebel halal kok ke POM bijimana ceritanya ??
    emang orang POM muslim semua?? ngerti mana yg halal mana yg haram???

    “MUI itu selamanya organisasi amplop Mbak Nara… fatwanya itu banyak titipan dari sana-sini. Liat aja fatwa-fatwanya… makin kesini makin nggak mutu”

    bisa di jelaskan fatwa yg mana??
    🙂

  6. rian

    Emang MUI ahli dalam masalah makanan?? Apa mereka mengerti mengenai teknologi proses? Bahan baku? Yang bener aja lah… Jelas lebih mengerti orang POM dalam masalah itu.

    Mas lihatcermin… lihat sekeliling anda, betapa banyak fatwa-fatwa MUI yang sama sekali ga masuk akal? Pemilu di daerah misalnya? Ato yang jelas seperti Presiden Wanita di tahun 1999? Itu kan jelas-jelas titipan. Artinya jelas… institusi MUI itu jadi alat buat sebagian orang untuk memuluskan jalan mereka.

    Nah karena isi MUI itu banyak oknum-nya, mari kita hilangkan mereka dengan memandirikan MUI… COPOT ANGGARAN APBN! LABEL HALAL DARI MUI! Hidup MUI Mandiri atau BUBARKAN SAJA!

  7. sufimuda

    Ulama kan ada 2 jenis
    Ulama baik dan ulama jahat
    Ulama jahat adalah ulama yang memperdagangkan agama demi kepantingan dirinya atau kelompoknya..
    Mudah-mudahan MUI bukan kumpulan ulama-ulama jahat..

  8. setuju bahwa ulama ada 2 kelompok yaitu yang baik dan jahat……Insya Allah MUI masih masuk kelompok yang baik……kalau ada yg jahat itu mungkin oknum saja, karena manusia pasti tidak sempurna…dan jangan salahkan MUI yang selama ini telah mengawal umat muslim Indonesia agar waspada terhadap organisasi yg sesat dan menyesatkan walaupun memakai topeng “Islam” apalagi kerjanya memprovokasi karena ada dukungan dana dari luar Islam (khususnya untuk membuat berbagai macam media untuk menyerang Islam) dan tidak menginginkan Islam itu selamat, damai dan sejahtera……(pastinya tidak ada makan siang yg gratis ya…)

  9. setuju juga buat mas agus…..Insya Allah semua anggota MUI adalah manusia dan bukan malaikat, Alhamdulillah masih punya nafsu untuk berkuasa, kalo ada yang baik, paling juga oknum, dan jangan salahkan umat kalo mengkritisi ulama, karena mereka toh manusia juga, apalagi ngejual nama Allah untuk dibayar mahal di setiap ceramah…kasihan umat, udah miskin, untuk dapet siraman rohani aja harus bayar…….

  10. he…he….saya seneng deh sama mas Kaos Putih…soalnya berani mengkritisi para ulama ….tetapi kok tidak ada dalil Al Qur’an dan As Sunahnya??? Pakai ilmu apa donk mas …….masak ilmu kudu….maksudnya kudu nekad gitu loch……maaf jangan tersinggung ya Mas…..

  11. rian

    saya mo tanya sama mas agus… apa ada Ulama sekarang khutbah pake dalil… yang ada ngumbar gigi… kalo beberapa menit ga ketawa, mulai jorok dan yang miring2 keluar…

    Kalo dalil hadits banyak mas… seburuk2 ulama itu ulama akhir jaman!!

  12. logic

    udahlah, halal haram udah jelas di AlQuran lalu kenapa pengen MUI melegalisasinya ?

  13. Kaffir itu najis..!!

    * Si tolol “Logic (Orang sok intelek padahal bodoh) berkata : *
    ==============================================
    udahlah, halal haram udah jelas di AlQuran lalu kenapa pengen MUI melegalisasinya ?
    ==============================================

    @ Jawaban :
    wahai orang-orang tak berakal dengar penjelasan saya baik2,jangan terus menerus bodoh,

    Umat sangat memerlukan MUI karena MUI itu kumpulan ulama yang fakih di bidangnya,
    sedangkan fakta yang ada ,umat ini kebanyakan pengetahuannya awam,jadi jika bertemu dengan perkara-perkara yang bersifat syubhat memerlukan pakar di bidang agama (dalam hal ini MUI) untuk menentukan apakah perkara yang dia hadapi itu haram atau halal,
    Al-qur’an memang sudah lengkap,tapi membutuhkan ahli tafsir agar cara pandangnya satu,tidak multi-tafsir,,,

    Maih bodoh juga,
    Capek deh,,,,
    Hanya lulusan SD yang berkomentar kita ga butuh MUI,
    Kita pada faktanya butuh,
    YANG KITA GA BUTUHIN ITU : JIL dan KAUM KAFFIR LAINNYA

    • Abdul azfar al jawari

      Mas kita butuh ulama. Tetapi ulama yg benar benar ulama. Saya pribadi meragukan orang yang duduk di MUI. Saya muslim lagi belajar mencari ulama dan kebenaran. Kalau ulama sekelas as sayyid muhammad al maliki bin alhasani cukup kredible tanpa emosi. Dalam pemahaman ilmu. Hafal alquran dan al hadist. Budi pekerti sama dengan ucapan dan tindaka selamat mencari kebenaran sama sama.

  14. jossswae

    Maih bodoh juga,
    Capek deh,,,,
    Hanya lulusan SD yang berkomentar kita ga butuh MUI,
    Kita pada faktanya butuh,
    YANG KITA GA BUTUHIN ITU : JIL dan KAUM KAFFIR LAINNYA
    =====================================

    Klo kita yang gak paham Qur’an lantas menganut ajaran Dharmo Gandul trus gimana …..
    Apa ya ikut diberangus juga oleh MUI / FPI, padahal ajaran tersebut saya yakini membawa kedamaian dan keakuan baik bagi saya …… Oh MUI + FPI = Bencana Kebudayaan Indonesia

    Guae gak peduli Kafir, Najis, Haram, Surga Neraka dll, yang gue peduli Adalah apa yang tertuang dalam PANCASILA, yang lainnya NOWAY ….

  15. logic

    kalau anda bertanya segala hal maka AlQuran menjadi tidak cukup bagi anda, misalnya, anda bertanya, apakah daging kelinci itu haram atau tidak, maka kalau anda bertanya ke ulama maka ulama akan cari2 hadits untuk menjawabnya, dan haditsnya ada lagi, makanya butuh ulama untuk hal2 spt ini, tapi jika ikuti alQuran saja maka halal dan haram itu jelas dan mudah….
    terserah, mau pake gaya2 vatikan seperti MUI atau mau ikut AlQuran saja
    salam
    LOGIC




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: