Bahaya SKB Ahmadiyah

http://ulil.net/2008/06/14/bahaya-skb-ahmadiyah/
SKB mengenai pelarangan aktivitas Ahmadiyah yang dikeluarkan oleh pemerintah 9 Juni 2008 yang lalu mengandung banyak pasal yang bisa diselewengkan untuk memberangus kebebasan berpendapat dengan alasan “menghina agama”.

Sebagaimana sudah saya tulis dalam catatan terpisah, kita tidak bisa menganggap golongan tertentu melakukan pengginaan atas Islam hanya gara-gara mengajukan tafsir yang berbeda dengan kelompok mayoritas mengenai doktrin dan ajaran tertentu.

Jika perbedaan tafsir dianggap menghina agama, maka apakah penafsiran kaum Protestan yang berbeda secara radikal dari kaum Katolik boleh dianggap sebagai “penghinaan”? Apakah praktek keagamaan jama’ah NU yang oleh sebagian umat Islam yang lain bahkan dituduh sebagai tindakan syirik boleh disebut menghina agama?

Dalam keyakinan sejumlah kelompok kelompok Islam lain, praktek ziarah kubur yang dilakukan oleh warga NU dianggap bisa menjurus atau malah sama dengan syirik itu sendiri. Bukankah syirik adalah dosa yang paling besar dalam Islam? Apakah tafsiran keagamaan warga NU yang membolehkan ziarah kubur itu boleh dianggap sebagai penghinaan atas agama karena menimbulkan syirik?

Dalam setiap agama selalu ada sekte, denominasi, firqah, mazhab, dan lain sebagainya. Perbedaan antar sekte dalam beberapa agama besar bahkan begitu kerasnya sehingga sekte-sekte itu saling menuduh yang lain sebagai kafir. Oleh beberapa golongan dalam sekte Sunni, kelompok Syi’ah dianggap sebagai sekte yang menyimpang, bahkan keluar dari Islam.

Sekte Sunni juga mempunyai daftar panjang sekte-sekte sesat dalam Islam. Keterangan mengenai ini bisa dibaca dalam karya seorang teolog ortodoks Sunni, Abdul Qahir al-Baghdadi, “al-Farq bain al-Firaq”.

Kemunculan sekte Ahmadiyah hanya menambahkan satu varian saja dalam sejarah panjang sekte-sekte Islam yang ada. Tradisi mengkafirkan dan menyesatkan masih bertahan hingga sekarang, sesuatu yang sangat kita sesalkan. Saat Ahmadiyah muncul dan membawa interpretasi yang berbeda mengenai konsep kenabian dalam Islam, kelompok-kelompok Islam yang lain langsung mengkafirkan sekte baru yang lahir di India ini.

Mari kita lihat poin pertama dalam SKB itu yang bunyinya adala sbb:

“Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 2005 tentang pencegahan penodaan agama.”

Kalimat dalam SKB ini sangat berbahaya karena membolehkan negara untuk mencampuri urusan akidah dan kepercayaan warga negara, bahkan memberi hak kepada negara untuk menentukan mana akidah yang benar, mana yang tidak.

Jika kalimat ini ditafsirkan secara sembarangan dan “literal”, maka pertanyaannya adalah: apa yang disebut dengan “akidah yang benar”? Apakah akidah yang benar adalah akidah yang ditentukan oleh Depag dan MUI? Apakah umat Islam tidak diperbolehkan melakukan penafsiran Islam yang berbeda dengan MUI dan Depag?

Jika memang demikian keadaannya, apakah negara akan memberangus sejumlah intelektual Muslim yang selama ini mengajukan banyak interpretasi kritis atas sejumlah dotrin dalam Islam, misalnya doktrin jihad yang disalahgunakn oleh kelompok-kelompok radikal seperti Jamaah Islamiyah?

Apakah mereka yang mengikuti tafsiran alm. Prof. Nurcholish Madjid akan diberangus juga oleh pemerintah, karena dalam beberapa hal tafsiran Cak Nur (panggilan akrab Prof. Murcholish Madjid) juga dianggap “menyimpang” oleh kelompok Islam yang lain?

Kalau diterus-teruskan, maka banyak sekali hal yang berkaitan dengan tafsiran Islam yang bisa diberangus oleh pemerintah. Karena SKB ini merujuk kepada UU No 1/PNPS/1965, terutama pasal pertama, maka surat ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia, bukan hanya untuk umat Islam saja, atau lebih khusus lagi Ahmadiyah. Sebab UU tersebut adalah hukum yang berlaku untuk seluruh warga negara.

Jika demikian keadaannya, apakah negara akan melarang sekte-sekte dalam Kristen yang dianggap menyimpang oleh umumnya umat Kristen yang lain? Apakah “penyimpangan” seperti itu dianggap sebagai penghinaan atas agama?

Kalau diterus-teruskan, maka negara akan diberikan wewenang untuk menegakkan kediktatoran akidah. Yang saya maksud dengan akidah di sini adalah akidah kaum mayoritas. Sebab penafsiran kaum mayoritas dianggap sebagai “meteran” untuk mengukur mana akidah yang benar dan mana yang sesat. Jika ini terjadi, maka kita akan kembali ke sejarah gelap Eropa pada zaman “kediktatoran Vatikan” dulu. Sungguh menyedihkan bahwa di abad 21, umat Islam dengan sukarela ingin mengulangi zaman kegelapan Kristen yang oleh agama itu sendiri sudah ditinggalkan, bahkan dikritik.

Kalangan Islam radikal di Indonesia dan tokoh-tokohnya seperti memang menghendaki “kediktatoran akidah” ini. Mereka selama ini sudah punya daftar kelomok dan paham dalam Islam yang hendak mereka berangus. Jika mereka berhasil dengan Ahmadiyah ini, maka mereka akan maju selangkah lagi untuk memberangus kelompok-kelompok dan paham-paham Islam lain yang mereka anggap “sesat”.

Tujuan mereka antara lain adalah untuk menghantam para aktivis, pemikir dan intelektual Muslim liberal-progresif yang selama ini banyak melakukan kritik atas doktrin kekerasan kaum Islam fundamentalis. Mereka ingin meminjam tangan negara untuk memberangus apa yang mereka anggap sebagai “musuh-musuh Islam dalam selimut”.

Dengan kata lain, SKB ini sangat berbahaya bagi kehidupan kebebasan beragama di Indonesia.

Tantangan semua tokoh dan masyarakat agama sekarang ini adalah bukan mempertahankan cara pandang “sesat-menyesatkan” yang dipakai oleh MUI selama ini. Yang harus dikembangkan adalah dialog antar sekte agar tak terjadi salah-paham di antara sesama umat satu agama.

Sebetulnya masyarakat kecil di bawah bisa hidup secara damai dan menghargai kelompok dan sekte lain yang berbeda. Tetapi tokoh-tokoh agamalah yang “memprovokasi” masyarakat kecil untuk membenci golongan lain dengan khutbah dan ceramah yang memanas-manasi.

Jika tokoh-tokoh agama selalu melakukan provokasi doktrin setiap hari dalam acara-acara keagamaan, sudah tentu masyarakat akan terpengaruh dan menjadi mudah marah serta tersinggung. Jika tokoh-tokoh agama melakukan kampanye untuk toleransi dan memberikan ceramah yang mendorong kepada sikap toleran dan terbuka, sudah tentu hasilnya akan lain.

Oleh karena itu, “bola” sekarang ada di tangan para tokoh agama: apakah kalian mau mencetak umat yang gemar marah dan sedikit-sedikit tersinggung, atau umat yang terbuka pemikirannya, kritis, dan bisa memilah informasi secara cerdas, tidak mudah digoyah oleh isu dan rumor yang tanpa dasar.

Agama adalah isu yang karakternya sangat “inflammable” atau mudah terbakar dan membakar. Tokoh-tokoh Islam yang memakai agama untuk “membakar” dan memprovokasi umat sungguh amat disayangkan, sebab mereka bermain api yan bisa membakar seluruh masyarakat, bahkan negara.

Jangan main api dengan agama!


  1. memang bukan menghina, tapi penodaan dan penistaan ajaran luhur agama islam.

    kalau mau menodai agama lain, silahkan….
    karena itu bukan hal yang istimewa bagi mereka.

  2. kaosputih

    kata-kata menodai itu dari mana mas….biktinya di jelasin dong….Islamnya juga Islamnya yang mana? FPI? MUI? kok Islamnya yang lain kaya Gusdur ngga? apa sampean bilang Gusdur bukan Islam? jangan NGAWUR gitu ah….

  3. 1. Faham Persepsi Tunggal Agama Millennium ke-3 masehi (agama tunggal sesuai An Nahl (16) ayat 93) adalah yang paling benar, artinya memenuhi kehendak Allah agar seluruh para rasul/nabi hanya menyampaikan RISALAH TUHAN/NABI, sesuai Al Maidah (5) ayat 67 (para rasul menyampaikan), Al An Aam (6) ayat 124.125 (Allah sendiri menyampaikan), Al A’raaf (7) ayat 6,60 (Nuh menyampaikan), 68,66 (Hud menyampaikan), 79,75 (Saleh menyampaikan), 93,88 (Syuaib menyampaikan), 144,109 (Musa menyampaikan), Al Ahzab (33) ayat 38,39,40 (Muhammad menyampaikan), Al Jin (72) ayat 23,26,27,28 (rasul yang dirido’i menyampaikan).
    Argumentasi cara penyampaian Risalah Tuhan/Allah: 1. Ali Imran (3) ayat 31,32,33,34,48,79; Al An Aam (6) ayat 89; Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18; Al Maidah (5) ayat 44,46,48,50; Al Maidah (5) ayat 66,68, An Nisaa (4) ayat 69,70; Yasiin (36) ayat 13,14; Al Fath (48) ayat 29; AshShaff (61) ayat 6,7,8,14; Al Baqarah (2) ayat 30-39; Al A’raaf (7) ayat 27; Thaha (20) ayat 117. Dengan argumentasi ini akan dapat menyusun Risalah Tuhan/Allah yang dilukiskan oleh nabi Muhammad saw. pada syiar-syiar Allah pada manasik haji, seperti tawaf keliling Kabah, sa’i antara Shafa dan Marwa, wukuf di Arafah, mabit di Musdalifah, melempar jamarat pada Ula, Wusta, Aqaba di Mina

    2. Faham yang pecah-belah adalah, mereka yang hanya menyampaikan risalah salah seorang nabi/rasul yang dilarang sesuai An Nisaa (4) ayat 150,151,152; mengarbabankan nabi/rasul sesuai Ali Imran (3) ayat 80; mengarbabankan pemuka-agama selain Allah sesuai At Taubah (9) ayat 31; unsur pecah-belah sesuai Ar Ruum (30) ayat 32, Al Mu’minuun (23) ayat 53,5; menyimpang dari garis lurus sebab musrik sesuai Al Hajj (22) ayat 31; musrik bunuh dengan ilmu sesuai At Taubah (9) ayat 5, musrik najis sesuai At Taubah (9) ayat 28, musrik perangi dengan ilmu agama sesuai At Taubah (9) ayat 36, musrik jangan do’akan sesuai At Taubah (9) ayat 113, musrik tidak ada ampunnya sesuai An Nisaa (4) ayat 48,116.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi

  4. Miliki, baca, hayati dan iman Buku Panduan
    “Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika”
    Bonus
    “Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesatuan Agama”
    Penulis Soegana Gandakoesoema
    Tersedia di
    Perumahan Puri BSI Permai Blok A3
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangkapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp. 02177884755
    HP. 085881409050




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: