Perkenalkan. Saya ini Muslim.

by Ardha Ranadireksa
(in response to a post by Ahmad Satori Hambali
http://www.facebook.com/topic.php?topic=5005&post=24561&uid=29594608648#post24561)
—–
Perkenalkan. Saya ini Muslim.

Islam adalah agama saya. Islam yang ‘patuh pada Sunatullah’. Tuhan saya adalah Tuhan yang merengkuh segenap alam, bukan hanya tuhan yang diperuntukkan bagi perorangan dan/atau kelompok tertentu saja.

Saya adalah orang merdeka. Hubungan saya dengan Sang Khalik hanya diketahui oleh saya dan Dia. Tidak ada satu kekuatanpun yang mampu untuk menyibakkan hal ini, pun kedua orangtua saya. Apalagi hanya sekedar pimpinan di organisasi.

Kebenaran absolut hanyalah milik Illahi, bukan semata-mata penafsiran ustadz, ulama, dan kyai. Saya tidak pernah berani menjustifikasi penafsiran saya atas suatu ayat (apalagi hanya satu ayat) sebagai kebenaran.

Saya adalah Muslim.

Anda tahu siapa saya? Saya adalah orang yang tidak pernah membatasi bahwa permasalahan masyarakat hanya sekedar syahwat, miras, dan judi belaka. Permasalahan syahwat selama ini hanya terbatas pada perempuan saja, sedangkan seorang “raja” diperkenankan untuk mengajar mengaji di kamar hotel hanya berdua saja dengan seorang gadis sampai jam 4 pagi. Ah, mungkin mereka-mereka takut dengan “raja” ini.

Agama saya memang tidak pernah menyelisihi fitrah. Kemunafikan dengan berkedok agama memang tidak pernah dapat dibenarkan. Sehingga, seyogyanya si “raja” tersebut mendapatkan hukuman rajam, bukan lantas disanjung dan dipuja hanya karena mendapatkan gelar S3 entah dimana dan dari siapa. Tanyakanlah pada putri-putrimu, bukankah perilaku “raja” tersebut memuakkan mereka? Ah, tidak perlu dijawab, karena akal manusia sehat hendaknya memahami kemunafikan ini sungguh menjijikkan. Saya pun sudah tahu jawabannya.

Jangan heran jika saya muak dengan perilaku para wakil rakyat yang saling bertegur sapa dengan mengumandangkan ‘Assalamu alaikum’ dalam percakapan mereka untuk membicarakan korupsi, karena Allah memang membenci perilaku munafik seperti ini. Hukum syariat yang didengung-dengungkan ternyata impoten terhadap perilaku mereka-mereka yang berkuasa. Rasanya, tidak hanya sebuah ayat yang cukup dijadikan sebagai landasan untuk menolak perilaku munafik seperti ini.

Jangan bingung jika saya muak dengan mereka-mereka yang merasa paling berhak melakukan intepretasi ayat. Bagaimana mungkin mereka-mereka ini menyatakan seseorang mendapatkan Lailatul Qadar pada seseorang, yang kemudian digulingkan dari kekuasaannya pada tahun 1998? Terlebih lagi, manusia yang di”anugrahi” malam Lailatul Qadar ini didaulat untuk memimpin malam Takbir Idul Fitri, malam kemenangan ummat Muslim?

Kalian yang tidak memahami lezatnya iman memang tidak akan pernah mengerti mengapa akal menjadi bagian dominan dalam kerangka berpikir dan kerja saya. Tidak lain dan tidak bukan, semata-mata saya hanya mensyukuri nikmat Illahi yang telah memberikan akal, hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Akal justru memperkuat keimanan saya, bukan meruntuhkannya. Sehingga, tidak pantas rasanya jika saya kuffur dengan meninggalkan penggunaan akal dalam menafsirkan ayat-ayat Illahi, terlebih dengan hanya bersandar pada akal para ulama/ustadz/habib.

Anda tidak paham? Tentu saja, karena orientasi hidup saya adalah kedamaian, bukan pada kekerasan belaka. Kedamaian yang insya Allah mampu menempatkan saya di sisi-Nya.

Siapa pun boleh menyangkal, akan tetapi tentu tidak melalui jalan pemaksaan. Tidak melalui pukulan, pentungan, tendangan, dan caci maki sumpah serapah.

Anda bisa memiliki pemahaman sebagaimana yang anda miliki sekarang, saya merasa tidak berhak menilai itu salah maupun benar. Akan tetapi, tindakan anda dengan menghancurkan warung-warung di bulan puasa saya yakin tidak dapat dibenarkan. Kejahatan kekerasan yang anda lakukan tidak akan berlangsung lama lagi, karena saya yakin kebenaran akan muncul sebagai pemenang.

Saya ini Muslim. Saya yakin pertarungan akan dimenangkan oleh mereka-mereka yang memiliki keyakinan sendiri, bukan sekedar keyakinan para pemimpin organisasi saja. Saya tidak menginginkan anda-anda yang tidak berpikir untuk memasuki barisan saya. Cukup dengan pertarungan di tingkat akal bukan pertarungan fisik, sebagaimana sering dilontarkan dalam seruan ‘assalamu alaikum warrahmatullahi wabarakatuh’.

Saya adalah manusia – bukan sekedar tangan – yang menginginkan kedamaian dengan manusia lainnya, tanpa membeda-bedakan berdasarkan keyakinan. Saya adalah manusia yang jauh dari kesan sempurna, karena bagi saya kebenaran manusia hanyalah berupa asimtot atas kebenaran Illahi.

Saya adalah Muslim. Saya yakin akan menang.

Masya Allah




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: