Fatwa “Sombong” Sang Aktifis

Sebelum Idul Adha kemarin, saya sempat googling untuk nyari naskah khutbah idul fitri buat seorang teman. Seperti biasany setelah mbah Google menyajikan hasil pencarian saya, beberapa situs yang memuat khutbah idul adha saya buka. Maka kesasarlah saya ke situs milik temen-temen HT. Memang disitu ada naskah kutbah idul adha, tetapi mbah Google justru merujuk ke sebuah artikel yang akan saya kutip secara utuh di bawah

Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk membacanya, karena paling-paling isinya ya seperti biasanya. Tetapi saya simpan begitu saja karena saya masih mencari naskah kutbah yang lain karena baru nemu dua dan kurang menarik. Setelah offline saya membuka satu persatu file html temuan saya untuk saya pindahkan ke word dan saya cetak.

Satu persatu file saya baca dan saya pindahkan ke word, sampai akhirnya saya kembali ke file yang dari situs hti yang saya simpan tadi. Saya baca mungkin ada ayat-ayat atau hadist yang bisa di kopi paste untuk naskah kutbah yang saya edit. Tetapi saya sedikit jengah dan prihatin karena dalam artikel tersebut ada kutipan pernyataan yang menurut saya tidak sepatutnya dilontarkan oleh seorang yang mengaku aktivis, apalagi mereka yang mengaku berjuang untuk mempersatukan ummat. Silahkan anda menilai sendiri isi artikel tersebut tertutama pada kalimat yang saya jadikan HURUF KAPITAL dan CETAK TEBAL.

Berikut kesimpulan saya:

  1. Bahwa fatwa tersebut menurut saya dibuat semata-mata dengan semangat membela kepentingan (pendapat) kelompoknya yang terlalu tinggi. Sehingga sampai menjatuhkan vonis BID’AH MUNKARAH kepada kelompok lain yang mempunyai ijtihad yang berbeda. Sangat disayangkan penulis yang sangat ditokohkan di kelompok tersebut bahkan sudah digelari Kiayi Haji di depan namanya ternyata belum cukup arif dan santun membimbing ummat. Saya jadi ingat dengan diskusi di blog abusalafy yang ternyata banyak juga orang-orang yang gerah dengan kelompok yang mudah membid’akan dan mengkafirkan orang lain. Silahkan buka disana maka anda akan menemukan bahwa ada kemiripan dengan artikel tersebut.
  2. Secara pribadi saya tidak mempermasalahkan hasil ijtihad tersebut, dan bahkan saya setju dengan penetuan idul Adha yang satu seragam di seluruh dunia. TAPI MENGATAKAN BAHWA INDONESIA ADALAH SATU-SATUNYA NEGARA YANG TIDAK SAMA DENGAN ARAB SAUDI DALAM BER-IDUL ADHA ADALAH SEBUAH KESOMBONGAN YANG TAK TERELAKKAN. Bukankah penulis tersebut adalah bukan orang yang gaptek yang bisa melihat dan bisa mencari informasi di internet  yang menyatakan bahwa di dunia islam hari raya idul adha dirayakan di 3 hari yang berbeada yaitu, 19, 20 dan 21 Desember – fakta inipun sudah diposting oleh salah seorang pengunjung di situs tersebut persis di bawah artikel yang saya kutip dibawah. Saya hanya bisa mengatakan dari fakta ketidakmautahuan sang penulis untuk mencari informasi negara mana saja yang bebeda beridul adha – menunjukkan bahwa fatwa tersebut semata-mata ditulis dengan semangat MENYALAHKAN PEMERINTAH dan ULAMA yang berbeda berhari raya idul adha dengan penulis fatwa. Subhanallah! Mudah-mudahan tulisan tersebut juga menjadi saksi di akhirat kelak atas kecerobohan pemberi fatwa.
  3. Saya heran mengapa diakhir tulisan di sebutkan sang penulis adalah SALAH SEORANG ANGGOTA KOMISI FATWA MUI, innalillahi! Kalau anggota fatwa MUI seperti ini – suka menyalah-nyalahkan umat dan ulama yang berebda dengan pendapat pribadi dan kelompoknya, lalu dimana kita harus mencari ulama yang bisa menjadi peneduh kami. Ya Allah janganlah engkau sesatkan dan condongkan hati kami kepada pemberi fatwa yang hanya menurutkan hawa nafsunya. Padahal saya baca di koran salah seorang anggota MUI Surabaya mewanti-wanti agar umat bersatu meski perdebadaan berhari raya idul adha, karena semua itu BUKAN NGAWUR dalam mengambil keputusan (ijtihad), ya Allah mudah-mudahan Ulama kami yang di Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah yang dikatakan penulis fatwa tersebut (karena menentukan idul adha berbeda dengan arab saudi) sebagai pelopor  TRADISI BURUK engaku beri pentunjuk dan engkau berikan pahala atas hasil ijtihad mereka.
  4. Dari KLAIM bahwa HANYA INDONESIA SAJA yang beridul adha berbeda dengan arab saudi – padahal di internet data-data tersebut begitu nyata. Membuat saya jadi SANGSI atas klaim pembuat fatwa bahwa TIDAK ADA PEREBDAAN dalam penentuan beridul adha selama Khilafah berdiri, saya akui saya belum pernah meneliti hal tersebut, tetapi pendapat saya – meksi saya tahu bisa saja salah – kok ya tidak mungkin, lha wong jaman sudah maju teknologi gini aja masih berbeda apalagi dulu. Saya YAKIN pembuat fatwa tersebut SUDAH MEMBACA SEMUA SEJARAH SELAMA KHILAFAH BERDIRI sehingga berani menyimpulkan demikian, tetapi TIDAK ADANYA BUKTI DALAM CATATAN SEJARAH bukan berarti tidak ada perbedaan, apalagi yang menulis sejarah TIDAK MENGETAHUI INFORMASI DIBELAHAN BUMI LAIN SECARA REAL TIME!
  5. Maunya saya memberikan komentar ini di situs resminya, tetapi PERCAYALAH saya SUDAH BEBERAPA KALI menuliskan TANGGAPAN YANG BERBEDA DAN TIDAK PERNAH DIMUAT, ah jadi ingat tulisan abusalafy bahwa situs-situs yang suka menyalahkan dan mebidahkan orang  lain biasanya TERTUTUP atas tanggapan / kritikan yang tidak sejalan dengan pemahaman kelompoknya, jadi ya sama saja dengan sistusnya JIL yang  juga suka nyensor pendapat yang bereda, setali tiga uang J alias podowae!

***

Selamat menyimak dengan tenang dan silahkan menanggapi tanpa amarah, semua bisa didiskusikan. Kalau anda marah – marah jangan khawatir TIDAK AKAN SAYA SENSOR, karena saya yakin kemarahan anda adalah bukti ketidakdewasaan anda dalam berbeda pendapat dan itu akan saya abadikan dalam blog ini, agar orang lain yang bisa menilai…. J

Wallahu’alam bishshowab.
NB: daftar negara-negara yang berbeda Idul Adha-nya diambil dari situs yang sama dengan artikel tersebut yang diposting seorang pengujung (bagi yang tahu linknya monggo di tampilkan di komentar)

Abu Muhammad Says:
December 17th, 2007 at 9:19 pm
Ini bukti lain “hebatnya” umat Islam…
OFFICIAL Day of Eid-al-Adha in Different Countries (http://www.moonsighting.com/1427zhj.html)

December 19, 2007 (Wednesday):
Australia (Arab Community)
Albania (Follow Saudi Arabia)
Bahrain (Follow Saudi Arabia)
Denmark (Follow Saudi Arabia)
Egypt (Follow Saudi Arabia)
Kosovo (Follow Saudi Arabia)
Kuwait (Follow Saudi Arabia)
Libya (Follow Saudi Arabia)
Luxembourg
Qatar (Follow Saudi Arabia)
Saudi Arabia (Claim of sighting)
UAE (Follow Saudi Arabia)
UK (also on Dec 20)
USA and Canada (Arab Community, and Islamic Society of North America)

December 20, 2007 (Thursday):
Australia (Turkish Community)
Barbados
Belgium
Canada (Toronto Hilal Committee)
Guyana
Indonesia
Malaysia
Mauritius
Singapore
South Africa
Tanzania
Trinidad & Tobago
Turkey
UK (also on Dec 19)
USA (also on Dec 19, and Dec 20)

December 21, 2007 (Friday):
Australia (also on Dec 19, and 20)
Bangladesh
Fiji Islannds
India
Iran
Morocco
Pakistan
Senegal
USA (Islamic Circle of North America & Chicago Hilal Committee)

*****

PENENTUAN IDUL ADHA WAJIB BERDASARKAN RUKYATUL HILAL PENDUDUK MAKKAH

Oleh: Muhammad Shiddiq Al-Jawi*

Para ulama mujtahidin telah berbeda pendapat dalam hal mengamalkan satu ru’yat yang sama untuk Idul Fitri. Madzhab Syafi’i menganut ru’yat lokal, yaitu mereka mengamalkan ru’yat masing-masing negeri. Sementara madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali menganut ru’yat global, yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum Muslim. Artinya, jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat itu berlaku untuk seluruh kaum Muslim sedunia, meskipun mereka sendiri tidak dapat meru’yat.

Namun, khilafiyah semacam itu tidak ada dalam penentuan Idul Adha. Sesungguhnya ulama seluruh madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali) telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idul Adha. Ru’yat yang dimaksud, adalah ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit) untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah, yang dilakukan oleh penduduk Makkah. Ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia.

KARENA ITU, KAUM MUSLIM DALAM SEJARAHNYA SENANTIASA BERIDUL ADHA PADA HARI YANG SAMA. FAKTA INI DIRIWAYATKAN SECARA MUTAWATIR (OLEH ORANG BANYAK PIHAK YANG MUSTAHIL SEPAKAT BOHONG) BAHKAN SEJAK MASA KENABIAN, DILANJUTKAN PADA MASA KHULAFA’ AR-RASYIDIN, UMAWIYIN, ABBASIYIN, UTSMANIYIN, HINGGA MASA KITA SEKARANG.

Namun meskipun penetapan Idul Adha ini sudah ma’luumun minad diini bidl dlaruurah (telah diketahui secara pasti sebagai bagian integral ajaran Islam), ANEHNYA PEMERINTAH INDONESIA DENGAN MENGIKUTI FATWA SEBAGIAN ULAMA TELAH BERANI MEMBOLEHKAN PERBEDAAN IDUL ADHA DI INDONESIA. JADILAH INDONESIA SEBAGAI SATU-SATUNYA NEGARA DI MUKA BUMI YANG TIDAK MENGIKUTI HIJAZ DALAM BERIDUL ADHA. SEBAB, IDUL ADHA DI INDONESIA SERING KALI JATUH PADA HARI PERTAMA DARI HARI TASYRIQ (TANGGAL 11 DZULHIJJAH), DAN BUKANNYA PADA YAUMUN-NAHR ATAU HARI PENYEMBELIHAN KURBAN (TANGGAL 10 DZULHIJJAH).

Kewajiban kaum Muslim untuk beridul Adha (dan beridul Fitri) pada hari yang sama, telah ditunjukkan oleh banyak nash-nash syara’. Di antaranya adalah sebagai berikut :

Hadits A’isyah RA, dia berkata “Rasulullah SAW telah bersabda :

“Idul Fitri adalah hari orang-orang (kaum Muslim) berbuka. Dan Idul Adha adalah hari orang-orang menyembelih kurban.” (HR. At-Tirmidzi dan dinilainya sebagai hadits shahih; Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 697, hadits no 1305).

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits yang serupa dari shahabat Abu Hurairah RA dengan lafal :

“Bulan Puasa adalah bulan mereka (kaum muslimin) berpuasa. Idul Fitri adalah hari mereka berbuka. Idul Adha adalah hari mereka menyembelih kurban.” (HR.Tirmidzi) Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 697, hadits no 1306)

Imam At-Tirmidzi berkata, “Sebagian ahlul ‘ilmi (ulama) menafsirkan hadits ini dengan menyatakan :

“Sesungguhnya makna shaum dan Idul Fitri ini adalah yang dilakukan bersama jama’ah [masyarakat muslim di bawah pimpinan Khalifah/Imam] dan sebahagian besar orang.” (Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 699)

Sementara itu Imam Badrudin Al-‘Aini dalam kitabnya Umdatul Qari berkata, “Orang-orang (kaum Muslim) senantiasa wajib mengikuti Imam (Khalifah). Jika Imam berpuasa, mereka wajib berpuasa. Jika Imam berbuka (beridul Fitri), mereka wajib pula berbuka.”

Hadits di atas secara jelas menunjukkan kewajiban berpuasa Ramadhan, beridul Fitri, dan beridul Adha bersama-sama orang banyak (lafal hadits: an-Naas), yaitu maksudnya bersama kaum Muslim pada umumnya, baik tatkala mereka hidup bersatu dalam sebuah negara khilafah seperti dulu, maupun tatkala hidup bercerai-cerai dalam kurungan negara-kebangsaan seperti saat ini setelah hancurnya khilafah di Turki tahun 1924.

Maka dari itu, seorang muslim tidak dibenarkan berpuasa sendirian, atau berbuka sendirian (beridul Fitri dan beridul Adha sendirian). Yang benar, dia harus berpuasa, berbuka dan berhari raya bersama-sama kaum Muslim pada umumnya.

(2) Hadits Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata: “Sesungguhnya Amir (Wali) Makkah pernah berkhutbah dan berkata :

“Rasulullah SAW mengamanatkan kepada kami untuk melaksanakan manasik haji berdasarkan ru’yat. Jika kami tidak berhasil meru’yat tetapi ada dua saksi adil yang berhasil meru’yat, maka kami melaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR Abu Dawud [hadits no 2338] dan Ad-Daruquthni [Juz II/167]. Imam Ad-Daruquthni berkata,’Ini isnadnya bersambung [muttashil] dan shahih.’ Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 841, hadits no 1629)

Hadits ini dengan jelas menunjukkan bahwa penentuan hari Arafah dan hari-hari pelaksanaan manasik haji, telah dilaksanakan pada saat adanya Daulah Islamiyah oleh pihak Wali Makkah. Hal ini berlandaskan perintah Nabi SAW kepada Amir (Wali) Makkah untuk menetapkan hari dimulainya manasik haji berdasarkan ru’yat.

Di samping itu, Rasulullah SAW juga telah menetapkan bahwa pelaksanaan manasik haji (seperti wukuf di Arafah, thawaf ifadlah, bermalam di Muzdalifah, melempar jumrah), harus ditetapkan berdasarkan ru’yat penduduk Makkah sendiri, bukan berdasarkan ru’yat penduduk Madinah, penduduk Najd, atau penduduk negeri-negeri Islam lainnya. Dalam kondisi tiadanya Daulah Islamiyah (Khilafah), penentuan waktu manasik haji tetap menjadi kewenangan pihak yang memerintah Hijaz dari kalangan kaum Muslim, meskipun kekuasaannya sendiri tidak sah menurut syara’. Dalam keadaan demikian, kaum Muslim seluruhnya di dunia wajib beridul Adha pada Yaumun nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tatkala para jamaah haji di Makkah sedang menyembelih kurban mereka pada tanggal 10 Dzulhijjah. Dan bukan keesokan harinya (hari pertama dari Hari Tasyriq) seperti di Indonesia.

(3) Hadits Abu Hurairah RA, dia berkata :

“Sesungguhnya Rasulullah SAW telah melarang puasa pada Hari Arafah, di Arafah” (HR. Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, Lihat Imam Syaukani, Nailul Authar, [Beirut : Dar Ibn Hazm, 2000], hal. 875, hadits no 1709).

Berdasarkan hadits itu, Imam Asy-Syafi’i berkata, “Disunnahkan berpuasa pada Hari Arafah (tanggal 9 Dhulhijjah) bagi mereka yang bukan jamaah haji.”

Hadits di atas merupakan dalil yang jelas dan terang mengenai kewajiban penyatuan Idul Adha pada hari yang sama secara wajib ‘ain atas seluruh kaum Muslim. Sebab, jika disyari’atkan puasa bagi selain jamaah haji pada Hari Arafah (=hari tatkala jamaah haji wukuf di Padang Arafah), maka artinya, Hari Arafah itu satu adanya, tidak lebih dari satu dan tidak boleh lebih dari satu.

Karena itu, atas dasar apa kaum Muslim di Indonesia justru berpuasa Arafah pada hari penyembelihan kurban di Makkah (10 Dzulhijjah), yang sebenarnya adalah hari raya Idul Adha bagi mereka? Dan bukankah berpuasa pada hari raya adalah perbuatan yang haram? Lalu atas dasar apa pula mereka Shalat Idul Adha di luar waktunya dan malahan shalat Idul Adha pada tanggal 11 Dzulhijjah (hari pertama dari Hari Tasyriq)?

SUNGGUH, FENOMENA DI INDONESIA INI ADALAH SEBUAH BID’AH YANG MUNKAR (BID’AH MUNKARAH), YANG TIDAK BOLEH DIDIAMKAN OLEH SEORANG MUSLIM YANG MASIH PUNYA RASA TAKUT KEPADA ALLAH DAN AZAB-NYA!

Sebahagian orang membolehkan perbedaan Idul Adha dengan berlandaskan hadits:

“Berpuasalah kalian karena telah meru’yat hilal (mengamati adanya bulan sabit), dan berbukalah kalian (beridul Fitri) karena telah meru’yat hilal. Dan jika terhalang pandangan kalian, maka perkirakanlah !”

Beristidlal (menggunakan dalil) dengan hadits ini untuk membolehkan perbedaan hari raya (termasuk Idul Adha) di antara negeri-negeri Islam dan untuk membolehkan pengalaman ilmu hisab, adalah istidlal yang keliru. Kekeliruannya dapat ditinjau dari beberapa segi :

Pertama, Hadits tersebut tidak menyinggung Idul Adha dan tidak menyebut-nyebut perihal Idul Adha, baik langsung maupun tidak langsung. Hadits itu hanya menyinggung Idul Fitri, bukan Idul Adha. Maka dari itu, tidaklah tepat beristidlal dengan hadits tersebut untuk membolehkan perbedaan Idul Adha berdasarkan perbedaan manzilah (orbit/tempat peredaran) bulan dan perbedaan mathla’ (tempat/waktu terbit) hilal, di antara negeri-negeri Islam. Selain itu, mathla’ hilal itu sendiri faktanya tidaklah berbeda-beda. Sebab, bulan lahir di langit pada satu titik waktu yang sama. Dan waktu kelahiran bulan ini berlaku untuk bumi seluruhnya. Yang berbeda-beda sebenarnya hanyalah waktu pengamatan, ini pun hanya terjadi pada jangka waktu yang masih terhitung pada hari yang sama, yang lamanya tidak lebih dari 12 jam.

Kedua, hadits tersebut telah menetapkan awal puasa Ramadhan dan Idul Fitri berdasarkan ru’yatul hilal, bukan berdasarkan ilmu hisab. Pada hadits tersebut tak terdapat sedikit pun “dalalah” (pemahaman) yang membolehkan pengalaman ilmu hisab untuk menetapkan awal bulan Ramadlan dan hari raya Idul Fitri. Sedangkan hadits Nabi yang berbunyi: “(……jika pandangan kalian terhalang), maka perkirakanlah hilal itu!” maksudnya bukanlah perkiraan berdasarkan ilmu hisab, melainkan dengan menyempurnakan bilangan Sya’ban dan Ramadhan sejumlah 30 hari, bila kesulitan melakukan ru’yat.

Ketiga, Andaikata kita terima bahwa hadits tersebut juga berlaku untuk Idul Adha dengan jalan Qiyas –padahal Qiyas tidak boleh ada dalam perkara ibadah, karena ibadah bersifat tauqifiyah– maka hadits tersebut justru akan bertentangan dengan hadits Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RA, yang bersifat khusus untuk Idul Adha dan manasik haji. Dalam hadits tersebut, Nabi SAW telah memberikan kewenangan kepada Amir (Wali) Makkah untuk menetapkan ru’yat bagi bulan Dzulhijjah dan untuk menetapkan waktu manasik haji berdasarkan ru’yat penduduk Makkah (bukan ru’yat kaum Muslim yang lain di berbagai negeri Islam).

Berdasarkan uraian ini, MAKA INDONESIA TIDAK BOLEH BERBEDA SENDIRI DARI NEGERI-NEGERI ISLAM LAINNYA DALAM HAL PENENTUAN HARI-HARI RAYA ISLAM. INDONESIA TIDAK BOLEH MENENTANG IJMA’ (KESEPAKATAN) SELURUH KAUM MUSLIM DI SEANTERO PELOSOK DUNIA, KARENA SELURUH NEGARA MENGANGGAP BAHWA TANGGAL 10 DZULHIJJAH DI TETAPKAN BERDASARKAN RU’YAT PENDUDUK HIJAZ. SUNGGUH, TAK ADA YANG MENYALAHI IJMA’ KAUM MUSLIM ITU, SELAIN INDONESIA !

Lagi pula, ATAS DASAR APA HANYA INDONESIA SENDIRI YANG MENENTANG IJMA’ TERSEBUT DAN BERUPAYA MEMECAH BELAH PERSATUAN DAN KESATUAN KAUM MUSLIM? APAKAH INDONESIA BERAMBISI UNTUK MENJADI NEGARA PERTAMA YANG MEMPELOPORI SUATU TRADISI YANG BURUK (SUNNAH SAYYI’AH) SEHINGGA PARA UMARO’ DAN ULAMA DI INDONESIA AKAN TURUT MEMIKUL DOSANYA DAN DOSA DARI ORANG-ORANG YANG MENGAMALKANNYA HINGGA HARI KIAMAT NANTI?

Kita percaya sepenuhnya, perbedaan hari raya di Dunia Islam saat ini sesungguhnya terpulang kepada perbedaan pemerintahan dan kekuasaan Dunia Islam, yang terpecah belah dan terkotak-kotak dalam 50-an lebih negara kebangsaan yang direkayasa oleh kaum kafir penjajah.

Kita percaya pula sepenuhnya, bahwa kekompakan, persatuan, dan kesatuan Dunia Islam tak akan tewujud, kecuali di bahwa naungan Khilafah Islamiyah Rasyidah. Khilafah ini yang akan mempersatukan kaum Muslim di seluruh dunia, serta akan memimpin kaum Muslim untuk menjalani kehidupan bernegara dan bermasyarakat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Insya Allah cita-cita ini dapat terwujud tidak lama lagi !

Ya Allah, kami sudah menyampaikan, saksikanlah !

*)Dosen STEI Hamfara Yogyakarta; Ketua Lajnah Tsaqofiyah HTI Propinsi DIY; ANGGOTA KOMISI FATWA MUI PROPINSI DIY.

http://hmcahyo.wordpress.com/2007/12/21/fatwa-%E2%80%9Csombong%E2%80%9D-sang-aktifis/


  1. AntiKetololan

    Gue ngga peduli mo beda mo kagak pas idul adha, nyang penting besok kudu ada lontong ma ketupat, opor ayam, sayur lodeh, balado kentang, rendang ma kerupuk. Oh ayam goreng juga boleh tambah mie gorengnya juga. Ngga lupa es cendolnya ha ha ha…:mrgreen:

    …kecuali di bahwa naungan Khilafah Islamiyah

    Kalo seandainya terbentuk ni kilapah islamiyah, dimana pusat ibukotanya? Asli gue penasaran. :p

  2. Salam kenal.
    Identitas sang penulis “Penentuan Idul Adha” mirip dengan saya. Kalau saya sih, Muhammad Shodiq al-Jawi. Saya juga dosen di Yogyakarta, tapi di UMY. Dan saya bukan anggota MUI.
    Demikian perkenalan dari saya.

  3. ahh…… kalau saya bukan aktifs, apalagi anggota mui. lucu ya…he… aku gak peduli koment aku di hapus, gak peduli yang penting ada yang baca aja gitu kok repot.
    gini ya soal posting diatas, disana ada khilafah. apa sihh khilafah, buka dehh akal pikiran kita. untuk memaknai khilafah. dalam alqur’an memang ada kata khilafah. menurut saya, khilafah disana (alqur’an) manusia, jadi hanya manusia. manusia yang bagaimana. khilafah yaitu manusia yang plus. lebih dari sekedar manusia biasa. dia kreatif, dan lainnya yanggak mungkin aku sebutkan satu persatu. kapan2 aku posting ke blogku, silakan anda kunjungi jangan kayak kambing, ayam potong hanya diem gak mau pergi,..
    gak usah anda mencari khilafah islamiyah dimana? di arab atau dimana kek, seperti anak HTI yang menurut sama gak logis dalam melakukan aksinya, kayak monyet. terus sapa khilafah itu …? jawab saya anda, saya. anda jangan mencari khilafah, khilafah udah ada pada anda sendiri,..
    alqur’an diturunkan oleh tuhan ke bumi untuk manusia, karena ia mempunyai akal,. kambing gak dikasih alqur’an, karena ia gak dibekali akal sehat oleh tuhan.

    jadi kalau anda gak jadi khilafah maka jadi hewan aja, gitu…………
    anda janganmengahrapkan surga, master peacenya tuhan itu manusia, surga hanya makhluk.
    anda berjuang khilafah, berarti anda memberhalakan khilafah, menuhankan khilafah.
    berarti anda goblok, tolol, dungu, terutama HTI itu yang saya dengar dan liat. sebenarnya kasihan saya ama para pengikut yang gak tahu apa2. konsep khilafah gak tahu secara luas. hanya terpetak2. kasihaaaaaaaaaan anda gak tahu islam secara luas
    . ayo kita sharing ama aku tiap hari aku online. kunjungi web aku. :
    http://www.212baca.wordpress.com
    jangan di spam ya………

  4. emang kl ga tahu ga apa apa tp udah ngrasa ga tahu knpa ga ingin tahu or mencari tahu itu yg bner nya GOBLOG
    kl anda ingin ingin bicara seblomnya teliti dl apa yg akan anda bcrakan ,anda tahu ga apa yg akan anda bcarakan

  5. gandhoz

    Klo mau tepat waktunye ….. pake VALENTINE DAY aja ….
    Biar gak tabrakan dan pasti kasih sayang sesama umat jadi terjalin erat …. hi hi hi

  6. Kaffir itu najis !!!

    he..he…^-^
    Bukan rahasia umum jika JIL (Jaringan Iblis Liberal) sangat kewalahan dengan Ormas Islam bernama HT (hizbut Tahrir), karena selama ini hanya umat islam secerdas HT lah yang membongkar habis siapa sesungguhnya JIl antek2 yahudi dan USA di negeri ini,
    Persis seperti di BLOG ini, ada si “ulil” yang main lenong dengan ngaku-ngaku sebagai “Habib” dengan nama habib hasan, trik-trik murahan khas anak2 JIL ini tak mempan oleh kaum intelek seperti HT yang selalu mempunyai dalil logis yang memantahkan semua argumen mereka.
    hanya orang dunggu saja yang bisa diperdaya oleh mereka.

  7. logic

    mas Kaffir,
    sebenarnya anda sedang terpojok….agama yang anda anggap agama islam itu sebenarnya bukan agama islam, tapi semacam agama keturunan, dengar kabar2 dari cerita2 hadits…
    salam
    LOGIC

  8. Kaffir itu najis !!!

    Anda atau saya yang sedang terpojok ??
    MALU…MALU…!!!!
    Budayakan rasa malu,
    pertanyaan saya banyak yang ga bisa ente jawab.
    BICARA APKE ILMU DONG,
    LULUSAN SD TAHU APA sih ???




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: