Diskriminasi pasca SKB thd Ahmadiyah

Frens,
Akhir minggu kemaren, saya melewatkan waktu di vihara Vipassana, Lembang, untuk mengikuti Mubes JAKATARUB (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama). JAKATARUB sendiri merupakan hasil program dialog MADIA bekerjasama dengan INCRES delapan tahun lalu. Saya kagum, karena diam-diam JAKATARUB terus bertahan, bahkan berkembang menjadi salah satu kekuatan dalam menyebarkan pluralisme di wilayah Jawa Barat.

Seorang teman Ahmadiyah, dari wilayah Majalengka, menuturkan pengalaman pahit pasca SKB yang membuat hati saya seperti tertusuk. Di pasar Majalengka, kios-kios sudah ditandai mana yang anggota Ahmadiyah, mana yang bukan. Ini, tentu saja, membuat orang Ahmadiyah kesulitan memasarkan dagangan mereka. Tetapi yang lebih mengenaskan, nasib anak-anak keluarga Ahmadiyah di sekolah. Mereka (baru berusia 8 – 10 tahun) tidak boleh duduk sebangku dengan rekan-rekannya. Bahkan, menurut teman tadi, ada anak yang dipaksa duduk di lantai hanya karena keyakinan Ahmadiyahnya.

Cerita dari Majalengka, saya yakin, baru merupakan puncak gunung es. Pasti akan banyak sekali cerita-cerita serupa di berbagai belahan tanah air. Dan ini menyadarkan saya, persoalan SKB akan jauhhhhhh lebih berat di daerah-daerah ketimbang di Jakarta. Di situ ada proses separasi, pemisahan golongan-golongan dalam komunitas yang tadinya intim (bayangkan ini terjadi di daerah pedesaan yang intim!), dan berujung pada eksklusi, penafian hak-hak dan semacam “pengusiran” diam-diam. Separasi dan eksklusi, Anda tahu, adalah langkah awal dari genosida.

Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan terhadap teman-teman Ahmadi itu. Saya sendiri mengusulkan agar JAKATARUB memfasilitasi dialog-antar-komunitas, di mana banyak kesalahpahaman dapat dicairkan, misalnya antara komunitas Ahmadiyah di sana dengan pihak NU. Mungkin ini bisa merajut kembali tali-tali ikatan komunitas yang semakin tercerai berai.

Saya sendiri ingin mengusulkan pada teman-teman, entah Ahmadiyah atau bukan, untuk mendokumentasi praktik-praktik separasi dan eksklusi ini di tingkat pedesaan. Cerita-cerita semacam itu bisa menjadi pintu masuk guna menggugat SKB atau pemerintah.

Dalam keprihatinan mendalam…

Obelix
Pasca SKB, bahkan celeng pun rasanya hambar!


  1. saya sih ndak pernah mendengarkan fatwa MUI. ada atau tidak ada, ya ga usah didengerin.
    tapi saya usul saja supaya pemerintah ga lagi kasih duit buat MUI. gitu…

  2. Soal Ahmadiyah sebenarnya adalah merupakan sunatullah kejadian Kabil membunuh Habil memenuhi Al Maidah (5) ayat 27-32 yang wajib terjadi didalam 4 agama besar yaitu:
    1. Adam (umatnya sifat Kabil) – Nuh (umatnya sifat Habil) = Maryam (19) ayat 58, Lukas 17:26, Yohanes 8:58,59
    2. Ibrahim (umatnya sifat Kabil) – Luth (umatnya sifat Habil) = Al A’raaf (7) ayat 82, Al Hajj (22) ayat 43, Yohanes 8:39,40, Lukas 17:28.
    3. Musa (umatnya Yahudi sifat Kabil) – Isa/Yesus (umatnya sifat Habil) = Matius 27:35, Markus 15:34, Lukas 23:33, Yohanes 19:18, An Nisaa (4) ayat 57-159.
    4. Muhammad (umatnya sifat Kabil Yahudi – Ahmad (umatnya sifat Habil) = Ali Imran (3) ayat 144, Al Ahzaab (33) ayat 40, Muhammad (47) ayat 2, Al Fath (48) ayat 29, Ash Shaff (61) ayat 6,7,8,14.
    Keluarga sifat Yahudi – sifat Nasrani digambarkan didalam Ali Imran (3) ayat 31,32,33,34: Keluarga Adam-Nuh, Keluarga Ibrahim (-Luth), Keluarha Imran (Musa)-(Isa), Kaluarga Muhammad-Ahmad.
    Al Hasil terima saja kejadian ini kecuali Ahmadiyah menciptakan Agama Allah setelah Agama disisi Allah adalah Islam kaffah sejak dahulu sesuai Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baaqarah (2) ayat 208.
    Disebutkan diayat lain semua kiblat agama dikumpulkan diagama Allah sesuai Al Baqarah (2) ayat 148.
    Makanya teliti Al Quran sebagai isi Al KItab sesuai Al Waqi’ah (56) ayat 77,78,79, Al Baqarah (2) ayat 2.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. Kerjaanya MUI memang buat fatwa. Kasihan juga kalau duitnya gak turun gara-gara gak ada kerjaan untuk memfatwa….
    Fatwa itu proyek besar lho…..
    MUI jangan ngawur kalau mengeluarkan fatwa…..

    salam,

    edhenk

  4. ali

    saya setuju pendapat saudara Soegana Gandakoesoema, jadi kejadian tentang kabil dan habil adalah sunatullahi adalah hukum Allah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi apalagi menyangkut kasus
    ahmadiyah soalnya menurut Al Quran terutama didalam Surat Jumah
    ayat 3 tafsiran akan ada suatu golongan yang datang pada akhir jaman. sekian terima kasih

  5. bUKU bHINNEKA cATUR sILA tUNGGAL iKA
    iLMU kESATUAN AGAMA-AGAMA
    tERSEDIA DI
    pERUAMAHAN pURI bsi pERMAI bLOK a3
    jL. sAAMUDERA jAYA
    kELURAHAN rANGKAPAN jAYA
    kECAMATAN pANCORAN mAS
    dEPOK 16435
    tELP./fAX. 02177884755
    hP. 085881409050




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: