Lima Kesalahan Politik Yang Fatal

oleh: Nono Anwar Makarim

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Sila Pertama Pancasila, Ideologi Bangsa dan Negara yang termaktub dalam preambul Undang-Undang Dasar 1945, adalah identik dengan Jakarta Charter. Ini anggapan salah pada ketika para pendiri Republik Indonesia merumuskan undang-undang dasar kita. Ini anggapan salah pada ketika konsensus nasional terbentuk dan dirumuskan dalam UUD kita pada tahun 2000.

Pada tahun 1945 Jakarta Charter tidak masuk dalam rumusan UUD 45 karena para pendiri Republik Negara Kesatuan RI cemas bila itu dimasukkan, maka Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Utara akan keluar dari ikrar persatuan dan kesatuan. Pada tahun 2008 kesalahan itu melanggar konsensus nasional yang tertuang dalam UUD kita. Jaminan dan perlindungan atas kebebasan beragama yang tertuang dalam pasal-pasal hak asasi UUD kita adalah hak asasi yang tidak boleh dikesampingkan dalam keadaan apapun. Kesatuan dan Persatuan RI harus tetap dipelihara. TNI sadar akan ancaman bahaya terhadap keutuhan ini. Sudah terlalu banyak jiwa mereka korbankan dalam perang gerilya yang dilancarkan DI dan TII. Sinyalemen dan keprihatinan ini terungkap dalam pernyataan Jenderal (Purn.) Kiki Syahnakri di Indonesia Timur. Negara hendaknya tidak dijadikan polisi agama.

2. Massa agama yang berdemonstrasi mencerminkan kekuatan politik. Ini salah sejak dulu, ini salah juga sekarang. Partai-partai politik yang beraliran agama kian mengecil jumlah pemilihnya. Pengecilan pengaruh politik diiringi dengan mengerasnya suara. Yang kehilangan sesuatu selalu lebih keras suaranya ketimbang yang memperoleh sesuatu. Demo juga belum tentu mencerminkan ideologi mereka yang turut berdemo. Faktor uang tidak jarang memainkan peranan dalam mobilisasi massa dikalangan orang miskin yang kini semakin miskin.

Polling diseluruh dunia ketiga menunjukkan bahwa yang menggerakkan hati rakyat sekarang bukan lagi surga NANTI, melainkan hidup yang layak SEKARANG. Di Amerika Latin hasil polling itu amat mengejutkan: Mayoritas rela dipimpin Junta Militer lagi asal kehidupan mereka bisa lebih sejahtera. Ini mengejutkan karena kekejian rezim militer di Amerika Latin mengalahkan kekejaman dan pelanggaran hak asasi rezim-rezim militer di Asia dan Afrika. Walaupun mengecewakan, namun ia merupakan indikasi kuat bahwa bila harus memilih antara demokrasi dan diktatur, yang mereka akan pilih adalah yang mampu meningkatkan kesejahteraan mereka.

3. Bertindak keras terhadap kekerasan massa merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Ini salah. Yang melanggar hak asasi bukan tindakan keras yang mencegah, melerai dan menghukum mereka yang menggunakan kekerasan. Yang melanggar hak asasi adalah tindakan keras yang tidak proporsional dibandingkan dengan kekerasan yang ditindak. Yang melanggar hak asasi adalah penggunaan excessive force, kekerasan yang berlebihan, bukan kekerasan untuk menghentikan kekerasan. Kewajiban utama Negara dan alatnya adalah the duty to protect, kewajiban melindungi. Yang wajib dilindungi adalah yang lemah, yang haknya diinjak-injak, yang didhalimi, yang minoritas, yang tidak berdaya, yang kebebasan berpendapatnya dan berkeyakinan diancam, dikekang.

4. Mengecam penyimpangan terhadap asas-asas Pancasila berisiko kehilangan dukungan mereka yang dikecam. Pertama, yang dikecam itu adalah minoritas politik yang bersuara besar. Kedua, polling dunia yang memonitor denyut jantung pemilih membuktikan bahwa anggapan ini salah. Pemilih tidak lagi berorientasi pada aliran. Mereka menuntut bukti peningkatan kesejahteraan. Sebelum tahun 2004 yang tampak hanya pelarian massa pemilih dari partai aliran. Pada pemilu tahun 2004 kita menyaksikan pelarian pemilih yang spektakuler keluar dari PDI-P, partai nasionalis tambatan jiwa patriot bangsa dan kaum tertindas. Ideologi penting. Akan tetapi kalau musti pilih antara ideologi atau sesuap nasi, rakyat memilih hidup berkecukupan. Loyalitas pemilih beralih pada yang berjanji lebih nyata.

5. Mengambil sikap “tidak bersikap” adalah bijaksana. Dari semua kesalahan politik yang fundamental, barangkali inilah kesalahan yang terbesar. Sesuatu malapetaka terjadi, bila mayoritas berdiam menyaksikan hal-hal yang tidak benar.

Pada tahun-tahun menjelang Oktober 1965 sekelompok surat kabar angkat bicara tentang penyelewengan terhadap doktrin Sukarno dan Pancasila atas desakan PKI. Mereka menggabungkan diri dalam suatu organisasi yang diberi nama Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS). Atas desakan PKI Sukarno membubarkan BPS. Mayoritas diam. Manifes Kebudayaan lahir dan berupaya membebaskan ungkapan seni-budaya dari politik sebagai panglima. Atas desakan PKI Manifes dilarang. Mayoritas diam. Masyumi dibubarkan, PSI dibubarkan, Partai Murba dibubarkan, dan mayoritas berdiam. Lalu peruncingan keadaan melangkah lebih jauh: PKI menuntut dibentuknya Angkatan kelima, agar buruh dan tani dipersenjatai. Lalu RRC menawarkan sejumlah besar senjata ringan untuk tujuan itu. Keberangkatan rahasia D.N. Aidit ke Cina, disusul keberangkatan Sukarno ke Cina dan pembicaraan rahasia dengan Chou En Lai. Desas-desus Dewan Jenderal dan penemuan bukti oleh Chaerul Saleh bahwa PKI akan merebut kekuasaan. Sukarno jatuh sakit, dan ketidakpastian serta rumor politik beredar mencekam warga negara dalam ketakutan. Semua itu pengantar ke malam hari tanggal 30 September 1965. Dalam hanya beberapa jam hampir seluruh generale staf TNI dibantai. Baru setelah itu, baru setelah darah mengalir, muncullah faktor mahasiswa, kekuatan cadangan bangsa di kota-kota besar seluruh Indonesia. Di luar kota-kota besar yang terjadi adalah genosida.

Saya yakin bahwa yang mau dicapai kekuatan-kekuatan ekstrim di Indonesia akan gagal. Mengubah konstitusi dengan melarang kepercayaan orang, bahkan mengganti konstitusi secara “demokratis” pun akan gagal. Upaya ke sana, baik oleh kekuatan ekstrim secara terbuka atau kekuatan ekstrim yang merahasiakan niatnya, akan kandas. Indonesia adalah negara minoritas politik. Tidak bersikap sekarang akan sekadar mematangkan situasi krisis, dan menaikkan harga pemecahannya oleh bangsa. Yang akan terjadi adalah kemenangan-kemenangan sedikit demi sedikit yang dibiarkan oleh sikap “tidak bersikap”, sampai memuncak dan terjadi sekali lagi pertumpahan darah. Itu yang membuat hati sanubari bangsa pedih. Dan untuk apa? Untuk apa?

Tahun 2006 tulisan Sabam Siagian di Suara Pembaruan mengutip pendapat seorang sarjana yang menyatakan bahwa di negara-negara yang sedang berkembang ada yang berkultur membantu kemajuan, dan ada juga yang berkultur menghambat kemajuan. Sabam membandingkan Vietnam dan Indonesia. Pada tahun-tahun 1960-an para sarjana sosial, politik dan ekonomi meratapi perkembangan di Indonesia. Istilah-istilah yang digunakan adalah Stranded Society (masyarakat yang terdampar), Lost Opportunities (kesempatan yang dibiarkan berlalu), dan Descent into Vagueness (merosot dalam kekaburan). Detik-detik itu kembali hadir di tengah-tengah kita. Sekarang. Di depan mata. Kepada Masyarakat Madani Indonesia dianjurkan untuk bersiap-siap untuk merosot lagi, dan lagi, dan lagi, tiada hentinya . . . Semoga Tuhan Yang Maha Esa kali ini membebaskan kita dari rintangan yang terus-menerus menghambat pertumbuhan nusa dan bangsa.

Jakarta, 9 Juni 2008

http://www.facebook.com/group.php?gid=29594608648#/topic.php?uid=29594608648&topic=4903


  1. ANTI KAFFIR LIBERAL

    Semua Partai mempunyai Usaha masing-masing dalam percaturan politik,Adalah sebuah kebohongan besar jika partai lain tidak berkeinginan merubah keadaan/sistem yang telah ada.
    Jika anda sebagai nasrani berkoar-koar ,hidup pancasila,Mengapa PDS memakai Asas Kristen bukan asas Pancasila ????
    Pada faktanya, Agama anda (Krtisten) telah terbukti gagal ketika memimpin sebuah negara,IPTEK tak berkembang,ilmuan dibunuh.Contoh Galileo Galillei serta copernicus yang dibunuh karena teori mereka bertentangan dengan keputusan gereja yang ngotot mengatakan bumi ini datar.Jadi wajar apabila anda mengataklan agama urusan individu bukan urusan negara,karena agama anda telah gagal ,beda dengan agama kami yang sukses menerapkan hukumnya di institusi yang bernama negara.

    Coba bandingkan ketika Islam berkuasa di Spanyol,bukan hanya mensejahterakan umat islam saja,tapi peradaban islam juga mampu mensejahterkan sesama umat manusia lainnya,Bahkan ketika islam berkuasa, Perdaban pada waktu itu berkiblat kepada kota cordoba (spanyol) sebagai pusat ilmu pengetahuan setelah kami umat islam yang memimpin negeri itu.Apa yang anda harapkan dari PANCASILA ?Sudahkah anda merdeka secara fisik dan non-fisik?Sudahkah anda sejahtera ketika pancasila sudah 63 tahun diterapkan?Yang ada malaha tamabah miskin,melarat,takl adil dsb.Orang2 yang anda sebut nasionalis itu ternyata menjual aset2 pemerintah kepada asing dengan harga yang murah. ???

  2. logic

    @ANTI KAFFIR LIBERAL
    Anda udah dikasih kesempatan tuh, Arab Saudi diperintah oleh agama Islam(Katanya). Semoga ilmu pengetahuan sudah berkiblat ke Arab Saudi….hehehe…oh belum yah, ceritanya cuma perkosa-perkosaan saja tuh….kapan akan ada iptek berkiblat kenegara yang katanya islam itu….?

    yang mikir dong kalau ngomong, jangan seenak perut saja huh….

    LOGIC
    (lagi marah nih sama yang mempermalukan islam)

  3. naruto4828

    to kaffir liberal
    Kaffir itu berfikir liberal=bebas, liberal itu ya kaffir…..
    Hidup Panca……syetan……
    Arab saudi itu bukan negara islam, ia adalah kerajaan yang malu-malu kucing klo tidak pakai syari’at…., maunya sich ikut2 Demokrasi…..
    Demokrasi…ya demokrasi….biang kehancuran negeri ini….yg mlahirkan manusia2 haus kekuasaan, kayak anjing kelaparan lagi berebut tulang. Dan mlahirkan keledai2 dungu yg mau saja mndekati harimau2 yg trsenyum, padahal mau nerkam/lihat tuh caleg2 yg senyum tbar pesona….senyum apa senyum.. ada maunya deh…

    jangan pake dengkul donk klo komentari…komntar orang…
    apa anda sdah bnar kmntarnya….tonk kosong nyaring bunyinya….

    4828
    (lagi mesem nih sama yang ngaku-ngaku islam)

  4. naruto4828

    Kapan yah berdirinya NKRI???, krena tggl 17 Agustus 1945 itu Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dan proklamator-nya pun atas nama bangsa Indonesia (teksnya-pun corat-coret lagi, kayak anak Tk blajar nulis), bukan Proklamasi NKRI, dan proklamatornya pun bukan presiden NKRI…..dan ia kalah oleh Agresi Belanda I dan II, lalu kabur ke Jogjakarta..tinggallah Jogja saja wilayahnya…..vacum of power akhirnya….

  5. logic

    jadi sebenarnya gak ada contoh negara islam….hehehe…memang gak ada yang namanya negara islam, jika ada yang mencoba mendefinisikannya, ia akan dibinasakan oleh Allah sendiri karena ia pasti menyimpang dari AlQuran(mengikuti hadits = menyimpang dari AlQuran, persis seperti dik Naruto)…..

    salam
    LOGIC

  6. Betul sekali, tdak ada negara islam. Yang ada juga NARUTO=Negara Alloh RUntuhkan TOgut….
    TOgut itu yah Pancasyetan ini, UUD 45, dan negara-nya dek logic yg doyan korupsi….

  7. Gondal gandul

    karena tidak pernah ada Negara Islam,jadi negara Islam adalah negara Utopis yang hanya ada dalam khayalan. Jadi penggagas negara Syariah sesungguhnya sedang bermimpi di sianng bolong. Jadi yang dapat saya lakukan adalah bilang BANGUN BUNG DARI TIDUR, JANGAN MIMIPI TERUS, HIDUPLAH SESUAI REALITAS ALAM NYATA, BUKAN ALAM MIMPI.

  8. logic

    ada demokrasi dan pluralisme yang akan membawa negara ke kebesarannya tapi umat malah mengajak ke kemunduran dengan meniru dan menuhankan arabiyahhhhhhahahahaha




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: