KOMPAS – Kebhinnekaan Dicederai

Jakarta, Kompas – Kekerasan yang dilakukan massa beratribut Front
Pembela Islam dan beberapa organisasi masyarakat lain terhadap anggota
Aliansi Kebangssan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pada
peringatan hari kelahiran Pancasila, Minggu (1/6), di kawasan Monumen
Nasional, Jakarta, mencederai kehidupan kebangsaan di Indonesia yang
menjunjung tinggi kebhinnekaan.

Oleh karena itu, aksi kekerasan tersebut harus diusut oleh kepolisian
dan pelakunya dikenai sanksi hukum.

Pendapat yang disuarakan oleh wartawan senior Goenawan Mohamad yang
turut serta dalam Aliansi Kebangssan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB), juga disuarakan tokoh politik, tokoh agama,
tokoh masyarakat, dan pihak-pihak yang terkena aksi kekerasan massa
yang beratribut Front Pembela Islam (FPI). Antara lain, Ketua Umum
Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Dewan Syuro Partai
Kebangkitan Bangsa, yang juga mantan Presiden, Abdurrahman Wahid,
Ketua Dewan Pertimbangan DPP PDI Perjuangan Taufiq Kiemas, Direktur
Eksekutif The Wahid Institute Achmad Suaedi, Ketua Fraksi Kebangkitan
Bangsa DPR A Effendy Choirie, dan Ketua DPP Partai Demokrat Anas
Urbaningrum.

Tindakan kekerasan yang dilakukan massa FPI itu dianggap ironis karena
dilakukan terhadap anggota AKKBB pada peringatan hari kelahiran
Pancasila yang seharusnya menjadi landasan pemersatu seluruh komponen
bangsa.

Aksi kekerasan yang dilakukan massa FPI itu mengakibatkan peringatan
hari kelahiran Pancasila yang sedianya dilakukan AKKBB di kawasan
Monumen Nasional (Monas) itu akhirnya bubar. Pada saat yang sama, dua
kelompok massa, yaitu Front Perjuangan Rakyat dan Hizbut Tahrir
Indonesia berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, menuntut agar
keputusan kenaikan harga bahan bakar minyak dibatalkan.

Menanggapi aksi kekerasan yang dilakukan massa FPI terhadap AKKBB,
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, aksi kekerasan
itu merupakan peristiwa yang memprihatinkan dan bertentangan dengan
nilai Islam. Perbedaan pendapat di kalangan masyarakat, tidak harus
diselesaikan dengan main hakim sendiri. Sudah saat bangsa ini
menghilangkan setiap aksi kekerasan yang mengatasnamakan Islam.

”Saya mengharapkan segenap pihak untuk menahan diri dan tidak terjebak
dalam kekerasan dan anarkisme,” ujar Din.

Sementara Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa, yang juga
mantan Presiden, Abdurrahman Wahid, mengatakan, Islam menentang
kekerasan. ”Ini bukan negara rimba, mau tidak mau harus ditangkap
orang-orang itu.” Ia dalam kesempatan itu juga menyerukan agar Front
Pembela Islam dibubarkan.

Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) yang tergabung
dalam AKKBB Masruchah sangat menyesalkan kekerasan yang dilakukan FPI
terhadap para peserta apel akbar AKKBB. ”Kami diserang massa FPI yang
membawa bambu dan botol, padahal sebagian besar dari kami terdiri dari
perempuan dan anak-anak,” katanya.

Masruchah mengimbau, seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan
kekerasan dan mengedepankan diskusi dan perdebatan pemikiran yang
sehat dalam menyelesaikan perselisihan.

Adapun Munarman, yang mengaku sebagai Komandan Laskar Islam
mengatakan, pihaknya membubarkan aksi AKKBB dengan kekerasan karena
AKKBB dianggap mendukung Ahmadiyah. Padahal, menurut Munarman,
Ahamdiyah adalah organisasi kriminal.

Munarman juga menegaskan, ”Mengapa mereka mengadakan aksi mendukung
organisasi kriminal. Mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap
perang, jangan menantang.”

Setidaknya 12 peserta AKKBB terluka akibat kekerasan yang dilakukan
FPI. Di antara yang terluka terdapat Direktur Eksekutif International
Centre for Islam and Pluralism (ICIP) Syafii Anwar, Direktur Eksekutif
The Wahid Institute Achmad Suaedi, dan pemimpin Pondok Pesantren
Al-Mizan KH Maman Imanul Haq Faqih dari Majalengka.

Polisi akan tindak

Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng menegaskan, Indonesia
adalah negara hukum dan menjamin setiap warga Negara untuk menjalankan
hak asasinya. Sebab itu, jika ada pelanggaran hukum seperti kekerasan,
negara akan melindungi korban dan menindak pelaku kekerasan secara
hukum. Menurut dia, tindakan hukum terhadap pelaku kekerasan akan
dilakukan kepada siapa pun, tidak akan pandang bulu.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Abubakar Nataprawira menegaskan, Polri
akan menindak tegas siapa pun yang melakukan kekerasan. ”Saya sudah
bicara dengan Kepala Polres Metro Jakarta Pusat. Polri sedang
mengumpulkan bukti-bukti merupakan rekaman video dari peristiwa
kekerasan itu,” katanya.

Kepala Polres Jakarta Pusat Komisaris Besar Heru Winarko mengemukakan,
terpecahnya massa AKKBB, atau banyaknya anggota AKKBB yang keluar dari
rute yang seharusnya dilalui, menjadikan pengawalan polisi terbagi,
sehingga aksi kekerasan yang terjadi pada mereka tidak dapat dicegah.

Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain mengatakan,
”Jika pemerintah tidak segera membuktikan dapat bertindak tegas dengan
memproses hukum para pelaku kekerasan, Ansor bersama elemen lain
seperti Garda Bangsa akan membubarkan FPI.”


Ia menambahkan, pihaknya sudah mulai lelah mendengar pemerintah yang
berulangkali berjanji akan bertindak keras terhadap kelompok seperti
FPI, tetapi nyaris tanpa bukti.

Aksi kekerasan tersebut membuat para ulama, kiai dan sejumlah
organisasi mahasiswa mengadakan pertemuan mendadak di Pondok Pesantren
Khatulistiwa, Kempek, Kabupaten Cirebon, Minggu
sore.(NOW/INU/JOS/USH/MAM/NMP/NIT/THT/*/KSP/ECA/DMU)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/02/01293516/kebhinnekaan.dicederai




    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: