Sepanjang diskusi, mereka membuat “onar” dengan cara bertanya yang sangat agresif dan meneriaki seseorang yang berpendapat berbeda.

Tentang Hizbut Tahrir di Indonesia

Mungkin sebagian teman-teman heran, kenapa saya seperti terobsesiuntuk melakukan kritik terhadap kelompok bernama Hizbut Tahrir (HT) itu.

Ketika masih di Jakarta dulu, saya sering sekali melakukan “tour” ke sejumlah kampus untuk menghadiri sejumlah diskusi yang diadakan oleh beberapa kelompok mahasiswa. Selain ke kampus, saya juga sering mendatangi forum-forum diskusi di tingkat kabupaten.

Sungguh di luar dugaan saya, bahwa Hizbut Tahrir cukup mendapatkan pengaruh yang lumayan di sejumlah kampus. Kalau saya katakan “lumayan” bukan berarti besar sekali. Tetapi sebagai pemain baru, gerakan ini cukup sukses menanamkan pengarus di sejumlah kampus, seperti IPB di Bogor, misalnya.

Yang mengherankan, saat diundang diskusi ke sebuah pesantren kecil di kota Tuban, saya bertemu juga dengan beberapa aktivis HT di sana. Sepanjang diskusi, mereka membuat “onar” dengan cara bertanya yang sangat agresif dan meneriaki seseorang yang berpendapat berbeda. Saya tak menduga bahwa mereka bisa mempunyai pengaruh hingga ke wilayah kabupaten.

Memang secara umum, pengalaman berdiskusi dengan kalangan fundamentalis di beberapa tempat sangat tidak menyenangkan, karena mereka sama sekali tak mengikuti cara-cara berdiskusi yang beradab.

Suatu saat saya pernah diundang ke Universitas Muhammadiyah Malang dalam sebuah diskusi yang juga menghadirkan salah seorang cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Syafiq Mughni. Dalam diskusi itu ada sejumlah aktivis HT yang hadir dan, sekali lagi, membuat “onar” dengan cara mereka sendiri, antara lain dengan teriakan-terakan Allahu Akbar. Pak Syafiq ampai terheran dan berujar, kok Universitas Muhammadiyah jadi begini. Pemandangan yang sangat lucu terjadi pada sebuah diskusi yang diadakan oleh Kedutaan Amerika di Hotel Hilton (sekarang berubah menjadi Hotel Sultan [untung bukan Hotel Khalifah]) beberapa tahun lalu. Saat itu, saya menjadi moderator, dan diskusi dilangsungkan dalam bahasa Inggris. Seorang aktivis HT “ngacung” dan bertanya dalam bahasa Arab. Ketika saya peringatkan
bahwa sebaiknya memakai bahasa Inggris atau Indonesia saja, dia ngotot. Pertanyaannya sama sekali tak berkenaan dengan isi diskusi. Pokoknya meracau saja.

Rupanya, kelompok HT memang memakai strategi yang unik, yaitu dengan cara mengirim aktivis mereka ke sejumlah diskusi publik untuk mengampanyekan ide mereka tentang “khilafah”. Walaupun diskusinya tidak berkaitan dengan tema itu, mereka paksakan saja saat sesi tanya-jawab untuk melontarkan isu tersebut.

Strategi ini ternyata merupakan metode yang sengaja mereka praktekkan di mana-mana. Kalau anda membaca buku karangan mantan aktivis HT di Inggris yang “sadar” dan keluar dari organisasi itu, yaitu Ed Husein yang menulis buku “The Islamist” itu (buku ini sudah terbit dalam edisi Indonesia oleh Penerbit Alvabet, Jakarta), anda akan tahu bahwa cara serupa juga mereka terapkan di Inggris di sejumlah kampus.

Strategi lain yang baru saya sadari belakangan adalah dengan cara memakai literatur fikih dan ushul fikih klasik untuk mendukung ide-ide mereka. Strategi ini saya kira mereka tempuh untuk menghadapi kalangan pesantren di Indonesia yang akrab dengan khazanah fikih dan ushul fikih itu. Saya senang dengan strategi mereka yang satu ini, karena dengan demikian mereka akan dengan mudah dipatahkan melalui tradisi fikih dan ushul fikih sendiri yang sangat kaya itu.

Meski mereka memakai fikih dan ushul fikih, cara mereka mendekati kedua disiplin itu adalah dengan melakukan “ideologisasi” , yakni mengunci fikih dan ushul fikih pada perspektif tertentu secara kaku, mengabaikan watak “polifonik” atau “polisemik” dari keduanya. Cara mereka seperti ini akan menjadi “boomerang” bagi mereka sendiri. Fikih dan ushul fikih sama sekali tak bisa di-fiksasi, karena wataknya yang sejak awal sangat lentur dan “fluid”.

Menurut saya, meski kelompok HT sama sekali tak besar, tetapi ini adalah kelompok yang sangat mengancam di masa mendatang. Kelompok ini memang tidak memakai metode kekerasan, tetapi cara-cara indoktrinasi mereka sangat kondusif untuk lahirnya kekerasan. Mereka memakai metode konfrontasi dengan membagi dunia secara hitam putih, dunia Islam dan dunia kafir.

Kalau anda baca pamflet-pamflet mereka yang secara agresif mereka sebarkan, entah melalui majalah bulanan atau buletin mingguan pada hari Jumat, mereka dengan “ngoyo” –tetapi kadang-kadang lucu dan menggelikan- – mencoba menganalisa peristiwa-peristiwa politik, baik domestik dan internasional, dengan cara yang sangat klise, yaitu mengembalikan seluruh masalah di dunia ini kepada kapitalisme, sekularisme, dan demokrasi, seraya mengajukan alternatif sistem khilafah sebagai solusi.

Dalam pandangan mereka, semua hal bisa diselesaikan dengan syari’ah Islam, mulai dari problem WC rusak (maaf, jangan terkecoh, ini hanya ungkapan yang saya pakai secara metaforis saja!) hingga ke sistem perdagangan dunia yang tak adil.

Saya sedang membaca kembali semua literatur HT yang ditulis oleh Taqiyyuddin al-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum. Seluruh karangan mereka lengkap saya temukan di perpustakaan Universitas Harvard. Tidak mudah membaca buku kedua pengarang ini. Bukan karena sulit, tetapi karena isinya membosankan dan penuh dengan “non-sense”. Saya heran, bagaimana mungkin anak-anak muda bisa tergoda dengan ideologi yang non-sense seperti ini.

Saya kira, salah satu penjelasannya adalah bahwa ideologi HT ingin tampil sebagai ideologi revolusioner yang hendak menjadi alternatif atas kapitalisme dan demokrasi. Anak-anak muda yang sedang mengalami fase “sturm und drang”, fase pubertas intelektual dan mencari “bentuk”, mungkin mudah tertarik dengan ideologi yang hendak menampilkan diri sebagai “Che Guevara” dengan baju Islam ini.

Saya tak menyalahkan anak-anak muda itu. Tugas kaum intelektual Muslim lah membongkar kepalsuan ideologi HT dengan menampilkan interpretasi yang beragam mengenai Islam, terutama interpretasi sejarah Islam yang hendak dimanipulas oleh kalangan HT. Beberapa kalangan terpelajar Muslim yang belajar di universitas Barat, tetapi tidak terdidik dalam studi Islam yang sistematis, juga ada yang jatuh kedalam “perangkap” kelompok ini. Saya sungguh heran, bagaimana kaum terpelajar yang berpikir secara rasional bisa percaya pada “non-sense” seperti dikemukakan oleh HT itu.

Beberapa kalangan pesantren di Jawa Timur, saya dengar, juga ada yang sudah mulai terpengaruh. Saya kira, taktik HT yang juga memakai literatur fiqh al-siyasah (fikih politik) klasik seperti al-Ahkam al-Sulthaniyya karangan Imam al-Mawardi (w. 1058 M), dalam beberapa kasus, membuahkan hasil. Sejumlah kiai dan santri yang tak mengerti peta perkembangan ideologi Islam internasional, dengan gampang “ditipu” oleh kelompok ini dengan retorika yang sengaja dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah berbau fikih.

Kelompok ini dilarang di sejumlah negeri Arab dan Eropa, tetapi menikmati kebebasan yang penuh di Indonesia, bahkan berhasil mengadakan konferensi khilafah internasional pada 12 Agustus 2007 di Senayan. Tak kurang dari Ketua Umum Muhammadiyah, Dr. Din Syamsuddin, ikut menghadiri konfrensi itu dan memberikan sambutan. Isu Ahmadiyah yang menghangat di tanah air beberapa waktu lalu merupakan “lahan basah” yang dengan cerdik dipakai oleh sejumlah tokoh HT untuk menghimpun “credit points” di mata umat.

Bersama kelompok-kelompok lain seperti FUI dan FPI, HT dengan agresif melancarkan kampanye pembubaran Ahmadiyah di Indonesia. Salah satu tokoh mereka, Muhammad Al-Khaththath yang berhasil “menyusup” menjadi pengurus MUI Pusat, tampil sebagai salah satu figur sentral dalam kampanye ini. Isu Ahmadiyah memang isu yang sangat murah untuk meraih “credit points” di mata umat, tanpa resiko apapun.
Menurut saya, harus ada usaha yang sistematis untuk melawan secara intelektual ideologi HT. Ada kecenderungan yang sangat kuat ke arah totalitarianisme dan fasisme dalam ideologi ini yang sangat berbahaya bagi umat Islam.

Kelompok ini jauh lebih berbahaya ketimbang kelomopok salafi yang umumnya hanya menekankan “puritanisme dan kesalehan individual”. Mereka juga berbahaya persis karena sikapnya yang “konfrontatif” terhadap sistem politik yang ada di Indonesia: mereka menolak menjadi partai politik dan ikut pemilu karena menganggap demokrasi sebagai sistem kafir, padahal mereka sendiri adalah sebuah partai (terbukti dengan nama mereka, “hizb”). Karena berada di luar sistem, mereka bisa bertindak di luar kontrol.

Yang mengherankan adalah sikap pemerintah Indonesia yang bertindak secara kurang tepat dalam dua kasus berikut ini. Sementara dalam kasus Ahmadiyah, pemerintah takluk pada tekanan kaum Islam fundamentalis, termasuk Hizbut Tahrir, untuk membubarkannya, pada kasus Hizbut Tahrir memperlihatkan kelonggaran yang luar biasa. Memang SKB Ahmadiyah tidak membubarkan kelompok itu, tetapi hanya sebatas membatasi kegiatannya. Karena tidak puas, kelompok-kelompok fundamentalis ini, di masa mendatang, tentu akan terus melakukan tekanan agar membubarkan Ahmadiyah.

Padahal jelas sekali tujuan akhir HT bertentangan sama sekali dengan tujuan negara Indonesia. HT ingin menggantikan Indonesia sebagai negara plural berdasarkan Pancasila dengan negara khalifah atau negara Islam universal. Sementara tujuan kelompok Ahmadiyah sama sekali tak ada yang bertentangan dengan tujuan negara Indonesia.

Meskipun saya sendiri bersikap bahwa setiap kelompok, aliran, sekte, dan mazhab apapun harus diberikan kebebasan untuk berserikat dan menyatakan pendapat di Indonesia
sesuai dengan mandat konstitusi kita. Baik Ahmadiyah, Hizbut Tahrir, dan kelompok-kelompok lain haruslah diberikan kebebasan yang sama. Saya hanya mau menunjukkan paradoks kebijakan yang ditempuh pemerintah.

Meskipun saya menganjurkan agar semua kelompok diberikan kebebasan berpendapat, tetapi kita, terutama masyarakat sipil, harus terus-menerus melakukan kritik atas ideologi atau paham yang menyebarkan kebencian pada kelompok atau aliran yang berbeda, yang tujuan akhirnya berlawanan dengan tujuan negara Indonesia, seperti kelompok HT ini.

Dalam beberapa “note” mendatang, insyaallah saya akan berusaha menulis sejumlah kritik atas ideologi negara khilafah yang dilontarkan oleh HT.

Ulil Abshar Abdalla

About these ads

  1. hudi

    Mas Ulil

    Saya tidak berposisi mewakili HT, tapi katakan ini pendapat pribadi

    setelah membaca 2 tulisan mas ulil, saya jadi penasaran. apa ini merupakan ‘balasan’ atas apa yang telah terjadi pada kasus monas AKKBB vs FPI awal juni 2008 lalu orang liberal yang pro ahmadiyah sering ‘diblejeti’ oleh HTI atau yang pro syariah sehingga masyarakat semakin tahu siapa sesungguhnya yang benar dan yang salah.

    Lantas ‘kelihatannya’ mas ulil ‘tidak terima’ dengan aksi-aksi ‘mereka’ mulailah mas ulil menganalisis, siapa yang paling dominan dan paling vokal menentang orang liberal.

    sepertinya tulisan mas ulil sebagai episode ‘blejeti’ HTI

    namun menurut pengamatan saya, argumen HT lah saya rasa paling mantaBB, karena HT lah yang paling mampu menandingi argumen orang liberal, HT lah yang paling sering ‘mengusik’ pemikiran orang liberal makanya mas ulil ‘terusik’ dan merasa perlu menjawab (barangkali lho).

    saya yakin 100 % kalau mas ulil berhadapan dengan DPP HTI sekali lagi akan kalah argumennya (Suer..), karena HTI menggunakan dalil dan kaidah ushul yang jelas dan standard sedang orang liberal, kaidah berpikirnya ya pikiran liberal itu saja sambil sekali-kali mencocokkan dengan Qur’an, tentu saja akan kalah

    orang-orang HT sudah terbiasa membahas tentang: kaidah usul dan usul fikih, pemikiran tentang segala hal yang biasa dibahas oleh islam liberal sudah ada jawabannya dan menjadi kajian oleh HT, saya yakin 100%, salah satu yang mampu menandingi argumen2 orang liberal tidak lain adalah HT

    saya rasa HTI diikuti hanya orang-orang yang ikhlas dan rela berkorban betapa tidak, tidak ada janji-janji materiel di sana (seperti jabatan, harta, dapat beasiswa dsb. ), mereka yang ikut HTI insya Allah hanya mencari ridho Allah semata.

    banyak lho yang ‘keder’ untuk ikut HTI, gara-gara idenya khilafah, yang diopinikan transnasional lah, yang diopinikan selalu ‘melawan’ (mengkritisi) pemerintah lah, yang diopinikan membahayakan lah dsb.

    sehingga dengan opini tersebut banyak yang hatinya menjadi kecut dan takut, terus terang banyak yang nggak mau diajak ngaji gara-gara takut, takut ditangkap polisi kek, takut dianggap subversif lah.

    lho tapi kok simpatisannya masih terus bertambah, karena mereka tersentuh oleh akidah yang benar yang diemban HT karena mereka mendapat pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh
    tidak masalah ibadah maghdoh semata, namun HT sudah membahas berbagai hal tentang Ekonomi, politik, Budaya, Sosial dsb yang dibutuhkan oleh masyarakat dan negara.

    jadi insya Allah HT diikuti oleh orang-orang yang ikhlas karena Allah yang tidak takut terhadap cacian orang mencaci.

    Kenapa HT yakin Khilafah dan Syariah, karena sudah menjadi janji Allah SWT, dan Janji Allah pasti benar, kedua Fakta-fakta sistem-sistem dunia yang sekuler lambat maupun cepat akan bangkrut.

    HTI bermimpi saja sudah ditakuti apalagi khilafah berdiri benar, sungguh akan berwibawa dan ditakuti ditakuti oleh negara dan orang-orang sekuler

    orang mengatakan ide khilafah tidak rasional, utopia dan mimpi. tapi yang jelas khilafah pernah tegak dan menaungi kaum muslimin berabad-abad. Ada yang mengatakan tapi sejarah khilafah buruk, tentu saja namanya juga manusia tapi sistemnya kan tidak, demokrasi pun banyak diselewengkan.

    kalau orang membicarakan ide dan tidak memiliki konsep, orang boleh menertawakan, tapi HT, konsepnya insya Allah komplit untuk mengatasi problematika yang sedang hangat di kancah nasional dan dunia.

    dulu ide pergi ke bulan juga dikatakan mimpi, tapi nyatanya berhasil saya yakin orang-orang barat banyak yang takut akan ‘mimpi Khilafahnya’ HT ini karena mereka meyakini bahwa mimpi bisa jadi kenyataan (Dream comes true) lihatlah ‘The Secret’ yang ramai dibicarakan tempo hari.

    mimpi yang tidak akan nyata, adalah mimpi yang hanya diimpikan semata dan tidak ada upaya untuk diwujudkan

    HT punya mimpi Khilafah, terus dan terus ingin diwujudkan, sudah menjadi kebiasaan umum orang-orang yang sukses, kalau mau sukses orang harus punya visi dan misi. Bagaimana kalau ada orang memiliki visi, misi dan konsep yang jelas, dan terus-menerus diperjuangkan apa mungkin gagal?

    Konferensi Khilafah Internasional (KKI) tahun lalu menjadi energi baru yang menambah keyakinan bagi pengembannya Upaya untuk menggagalkan KKI, menghalang-halangi KKI oleh pihak-pihak tertentu tidak berhasil, kesuksesan KKI semata-mata atas rahmat dan pertolongan Allah SWT, semata.

    Inilah yang ditunggu-tunggu tentang Khilafah ada upaya menghalang-halangi, kampanye buruk, dsb, tidak akan menyurutkan tekad pengembannya, insya Allah, Nashrullah (pertolongan Allah SWT) akan tiba.

    Makanya keyakinan tentang akan tegaknya khilafah ya tunggu waktu saja

    khilafah adalah kerinduan akan kesatuan kaum muslimin seluruh dunia yang akan menaungi masyarakatnya baik muslim maupun non muslim yang memerintah dengan adil berdasar hukum Allah Yang Maha Adil

    salam

  2. Assalamualaikum ya hudi,
    Ana kira ente juga melakukan hal yang sama, seperti yang ente tuduhkan pada ulil.”…‘balasan’ atas apa yang telah ditulisan” dan “sepertinya tulisan ente sebagai episode ‘blejeti’ Ulil”.

    Ana anggap hal itu biasa, ente bleh bela keyakinan ente akan HTI dan begitu pula ulil dengan Islamnya.

    Ana pikir kalo ente setuju dengan sistim khilafah, mengapa ente tidak bergabung saja dengan AHMADIYAH, mereka juga memakai sistim khilafah. konon Khilafah Ahmadiyah sudah 100 tahun jadi ya, tak perlu BERMIMPI, atau ente tidak suka karena sistim ente udah ada yang mendahului jadi ente ‘blejeti’ AHMADIYAH??? hahaha….maaf, ana tidak bermaksud syak wasangka

    Ana cuma mau mengingatkan, pemikiran sebuah sistim negara, apa lagi secara politis, di luar tatanan sistim negara yang sudah ada saat ini adalah tindakan ‘MAKAR’, taukah ente makar?

    Ana berharap Rakyat Indonesia selalu dibimbing oleh Allah SWT. untuk menjada rakyat yang taat kepada Pemimpinnya dan tak menjadi rakyat yang ‘khianat’. Amin.

  3. hudi

    Bung Habibhasan

    kayak jaman orba saja, sebut-sebut ‘MAKAR’.

    nih ada artikel tentang makar
    http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/12/02/0005.html

    MAKAR DI REPUBLIK KETOPRAK
    Tragedi Semanggi berbuntut tuduhan makar kepada sejumlah tokoh. Gaya Orde Baru dipakai lagi. Upaya membungkam suara oposisi?
    Secarik kertas Komunike Bersama Deklarasi Nasional, berisi 14 butir pernyataan, diteken 17 orang, ternyata berdampak luar biasa: dituduh makar. Padahal acara kumpul-kumpul yang bersimpul pada dikeluarkannya komunike itu biasa saja.
    Sejumlah aktivis dan tokoh bertemu di ruang Andrawina Hotel Sahid Jaya Jakarta, 12 November 1998. Pertemuan ini, antara lain, membicarakan soal Sidang Istimewa MPR. Para penggagas pertemuan itu rupanya ingin mengeluarkan pernyataan, sebagaimana telah dilakukan oleh tiga tokoh pro-reformasi Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Megawati dan Hamengkubuwono X, dua hari sebelumnya, lewat Deklarasi Ciganjur. Menurut Sri Bintang Pamungkas, yang hadir pada pertemuan itu, mereka kurang puas dengan Deklarasi Ciganjur, karena dinilai kurang progresif. Lantas, itu tadi, muncul Komunike Bersama yang antara lain menyatakan tidak mengakui MPR, menolak hasil Sidang Istimewa, dan menyerukan pembentukan presidium sebagai pemerintahan sementara.
    Tak diduga-duga, akibatnya, mereka yang meneken komunike itu dikenai tuduhan bermaksud makar, dijerat dengan Pasal 107 dan 110 KUHP. Kadispen Polri, Brigjen (Pol) Togar Sianipar, mengatakan para tersangka diperiksa karena telah memenuhi bukti, melakukan permufakatan perbuatan melakukan makar. “Bukti-bukti tersebut, antara lain didapat dari pemeriksaan terhadap
    sejumlah saksi dan dokumen yang telah disita.”
    Para tersangka jelas menolak tuduhan makar tak berdasar itu. Lantas polemik pun merebak. Ada yang menganalisa bahwa tuduhan makar itu merupakan cara pemerintah mengalihkan persoalan dari sejumlah kasus, seperti penembakan mahasiswa di Trisakti, penculikan aktivis, kerusuhan Mei serta ramainya tuntutan untuk menghapus Dwifungsi ABRI dan mengadili Soeharto. Dan, yang paling gamblang, pemerintah ingin mengelak dari tanggungjawab atas terbunuhnya belasan warga dalam Tragedi Semanggi, 13 November, dengan mengkambing-hitamkan para tokoh oposisi. “Saya tersinggung. Kalau mau makar, itu sudah saya lakukan 20 tahun lalu,” kata Ali Sadikin, salah seorang tersangka.
    Jadi cukup beralasan jika Ketua Umum PB NU, Abdurrahman Wahid, punya pandangan berbeda soal siapa yang makar itu. Menurutnya, pelaku makar adalah justru mereka yang menggunakan peluru tajam dalam Tragedi Semanggi 13 November. Bagi Gusdur, mahasiswa dan orang-orang tua yang meneken Komunike Bersama, hanya menggunakan hak mereka sebagai warga negara untuk menyampaikan pendapat.
    Pemerintah tampaknya memang kehilangan akal untuk menghentikan aksi unjuk rasa mahasiswa yang tak kunjung reda. Setelah menumbangkan Soeharto, gerakan mahasiswa 1998 memang terus melaju dengan tuntutan-tuntutan baru. Ini yang dikhawatirkan pemerintahan Habibie. Jangan-jangan gerakan yang terus membesar itu bakal menjatuhkan Habibie. Itu sebabnya, pagi-pagi pemerintah, melalui Menteri Kehakiman Muladi, mengeluarkan ancaman: Mereka yang berniat menggulingkan pemerintahan Habibie bakal dikenai tuduhan makar, seperti diatur pada pasal 107 KHUP, dengan ancaman 15 tahun penjara.
    Soal makar ini, kita ingat, Muladi seusai sidang Kabinet bidang Polkam 30 September, menyatakan Indonesia bukanlah Republik Ketoprak yang pemimpinnya bisa diganti dengan demonstrasi. “Jangan republik ini menjadi suatu republik yang kebiasaannya jatuh bangun karena suatu demo. Cukup dua (Soekarno dan Soeharto) saja,” ujar Muladi. Bekas Rektor Universitas Diponegoro itu berdalih, kejatuhan Soekarno dan Soeharto itu karena seluruh rakyat sepakat,
    sementara yang demonstrasi anti-Habibie hanya segelintir kelompok. Muladi waktu itu juga menandaskan bahwa pemerintah sedang mencari aktor intelektual yang berada di belakang demonstrasi mahasiswa.
    Nah, rupanya yang dicari itu kini telah ketemu. Aktor intelektualnya telah teridentifikasi. Mereka adalah 20 orang yang dituduh melakukan pemufakatan jahat untuk menggulingkan penguasa dengan menanda-tangani Komunike Bersama. Sejauh ini yang telah diinterogasi adalah Ali Sadikin, Kemal Idris, Usep Ranawidjaya, Roch Basuki, Sri Edi Swasono, Sri Bintang Pamungkas, Sukmawati Soekarno, Haryadi Darmawan, M Haryono Kartohadiprodjo, Meilono Suwondo, Permadi SH, Pribadyo S, Budi Saronto, PK Harya Sudirdja, Mulia Tarigan, Adityo Hanafi, Waskito, Abubakar Rifai, Usman Sadikun, dan Urip Hartono. Sri Bintang dan Usman Sadikun meski tidak menandatangani komunike juga diperiksa karena keduanya hadir di pertemuan dan dianggap menghasut.
    Sebagian tuduhan yang dikenakan pada para tersangka makar itu adalah “aktor intelektual” yang turut menggerakkan, dan mungkin mendanai, aksi-aksi mahasiswa. Ali Sadikin menampik keras prasangka itu. “Kami ini sudah tua-tua, di atas 70-an (tahun),” katanya. “Lagi pula saya ini tidak mengenal dan tidak pernah bertemu dengan mahasiswa.” Menurut bekas Gubernur DKI ini,
    Habibie ternyata lebih keji ketimbang Soeharto. “Soeharto saja nggak berani menuduh saya makar. Eh, ini Habibie baru berapa bulan jadi presiden sudah mau masukin saya ke penjara,” katanya. Sri Bintang Pamungkas sampai saat ini masih bingung mengapa dia ikut terjaring sebagai tersangka makar. “Mungkin saya dikira menggerakkan mahasiswa, karena terlihat di tengah aksi mahasiswa di depan Gedung MPR saat hari terakhir SI,” katanya menduga-duga.
    Barangkali memang tidak ada gunanya menduga-duga, karena justru bisa memancing prasangka. Menurut salah seorang pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Kasus Makar, di kalangan para penandatangan Komunike Bersama mulai muncul kecurigaan bahwa diantara mereka ada yang sengaja merancang pertemuan itu sebagai perangkap. Artinya, sebagian penandatangan komunike itu mulai ada yang menyesal terlibat dalam pertemuan itu. “Memang ada yang
    goyah nyalinya dengan ancaman hukuman yang berat itu, biasa aktivis tua,” tutur si pengacara tanpa mau menyebutkan nama.
    Ketakutan yang tak perlu memang. Apalagi mengingat tuduhan makar itu, menurut Prof Loebby Loeqman, ahli hukum pidana dari UI -yang dimintai keterangan pihak kepolisian sebagai saksi ahli dalam kasus ini- belum cukup kuat. “Makar itu ada dua. Ada kehendak dan ada pelaksanaan. Komunike itu belum cukup disebut sebagai makar. Harus dibuktikan dulu adanya pelaksanaannya,” katanya.
    Lagi pula, kata Ketua Dewan Pengurus YLBHI, Bambang Widjojanto, salah besar jika melihat persoalan ini dari kasus hukum semata. “Ini persoalan politik, ini cara penyelesaian gaya-gaya Orde Baru. Tuduhan makar itu adalah upaya mengalihkan isu dari tuntutan utama demonstrasi, yakni adili Soeharto dan Cabut Dwifungsi ABRI,” kata Bambang. Meskipun ini kasus politik Bambang tetap melihat perlu dibentuk tim pembela yang solid justru untuk membongkar
    kebohongan tuduhan itu. Atas permintaan sejumlah tersangka di Kantor YLBHI telah dibentuk Tim Pembela Kasus Makar yang antara lain melibatkan sejumlah pengacara ternama seperti Adnan Buyung Nasution dan Todung Mulya Lubis.
    Sebagai catatan, tuduhan makar memang acap digunakan selama Soeharto berkuasa. Umumnya tuduhan itu disebarkan pasca terjadinya demonstrasi besar atau huru-hara politik. Pada peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari, red), Hariman Siregar, Sjahrir, Aini Chalid dan sejumlah tokoh PSI ditangkap karena dianggap makar. Aksi mahasiswa menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden pada 1978 juga dijerat dengan pasal-pasal makar/subversif.
    Ketika sejumlah tokoh mengeluarkan Petisi 50 untuk mengkritik Soeharto, mereka juga dituduh makar, dan malah akan di-Nusa Kambangan-kan. Tuduhan makar juga dikenakan kepada aktivitas pendukung PDI yang menolak Kongres Medan dan menduduki kantor DPP PDI di jalan Diponegoro, dan menjadikannya sebagai tempat mimbar bebas. Para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang semuanya masih muda belia, ditangkapi juga dengan tuduhan makar, hanya karena mereka sering menggelar aksi unjuk rasa. Berbagai tuduhan makar itu
    biasanya diubah dalam putusan sidang pengadilan.
    Nampaknya, tuduhan makar yang gampang dilontarkan itu memang hanya sekadar gertakan, karena memang faktanya tidak mendukung. Menteri Kehakiman Muladi tidak salah ketika bilang Republik ini bukan Republik Ketoprak. Tapi ia alpa kalau pemerintahan saat ini adalah pemerintahan ketoprak, karena begitu gampang mengobral tuduhan makar. ***

  4. rian

    HTI itu mirip sales asuransi… jualan tong kosong, nyaring bunyinya ditambah maksa-maksa, kalo ditolak… keluar deh tuh sumpah serapahnya… Kafirlah… sesatlah… antek baratlah…

    Semua hal dihubung-hubungkan dengan khilafah. Ga nyambung… bung! Saya bosen baca buletin Al-Islam lo… isinya ga mutu! Caci Maki disebar di tempat suci, di hari suci, ga tahu malu!

  5. rian

    (Ga Nyam)Bung Hudi… jujur sajalah! Memang niat HTI itu kategori makar. Apa ada nama Indonesia dalam agenda HTI?

    Apa mengubah dasar, ideologi, wilayah negara itu bukan kategori makar? Saya ga sudi Indonesia HTI hapuskan… cari wilayah lain ajah kalo mau makar!

  6. habibhasan

    ya hudi,
    ente kiranya tidak tau apa itu makar….di setiap negara pastilah ada tuduhan tindak pidana ‘makar’….karena hal ini menjadi dasar sebuah negara berdaulat atau tidak. apa jadinya jika negara tidak bisa membrantas kelompok yang ingin membubarkan negara tersebut…..lebih baik tak usah didirikan negara. ini, ane berikan penjelasan tentang makar….

    Makar berasal dari bahasa Al Quran, dibentuk oleh akar kata yang terdiri atas tiga huruf Mim, Kef, Ra, MaKaRa yang berarti merencanakan, kata bendanya Makr(un), rencana.Dalam bahasa Indonesia makar mempunyai arti khusus, yaitu berencana untuk menggulingkan sebuah pemerintahan yang sah (bukan syah!) secara inkonstitusional.

  7. hudi

    HTI = hizbut tahrir INDONESIA

    ada INDONESIANYA khan

    bedakan bung CACI MAKI dengan MENGKRITISI
    umat Islam wajib AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR kalau ada yang menyimpang.

    kalau nggak ada sebab, atau penyimpangan kemudian mengomentari itu namanya nggak bener.

    ketika ramai-ramai, kekayaan alam INDONESIA dikuasai asing, ketika korupsi merajalela, ketika Pornographi membudaya, umat harus AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR, supaya semua sejalan dengan syariat Islam.

    Tugas Buletin Al-Islam, kalau mau dibaca betul-betul oleh Sodara-Sodara maka akan ketemu benang merahnya.

    siapa yang bereaksi paling keras terhadap upaya disintegrasi terhadap INDONESIA seperti Timor-timor, Papua, aceh tidak lain adalah HTI.

    baca arsip AL-ISLAMNYA … (jangan2 dirobek-robek)

    jadi HTI hakekatnya juga membela INDONESIA.

    mana reaksi orang liberal ketika ada upaya disintegrasi ?

    HTI ingin menyatukan kaum muslimin bukan sebaliknya memecah-belah.

    yang memecah belah itu orang-orang asing dan para kompradornya

  8. hudi

    Kalau bicara ‘MAKAR’ yang hakiki
    Makar kepada Allah SWT dan Rasulnya
    Taruhannya dunia akhirat

    – orang yang meragu-ragukan Al-Quran dan Sunnah
    – tidak menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman
    – tidak taat terhadap perintah Allah dan Rasul (Al-Quran dan Sunnah)
    – tidak rela kalau ajaran Islam membumi dan mendominasi
    – benci dengan syariat Islam
    – terhadap ulama bencinya bukan main (ANTI MUI)
    – dst. dst.

  9. habibhasan

    ya hudi,
    ada beberapa catatan yang bisa ana sampaikan dari komentar ente…

    “HTI = hizbut tahrir INDONESIA
    ada INDONESIANYA khan”
    kata ‘Indonesia’ pada sebuah lembaga tidak berarti merujuk pada organisasi yg mendukung NKRI dan Pancasila, ente lupa dengan PKI? disitu ada ‘Indonesianya’ juga. HTI mendukung NKRI dan pancasila, mudah saja buktinya, apakah HTI berazaskan NKRI dan Pancasila?

    “bedakan bung CACI MAKI dengan MENGKRITISI
    umat Islam wajib AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR kalau ada yang menyimpang.”

    caci maki atau mengkritisi hanyalah tergantung keiklasan penerimanya, Rasuullah tidak pernah marah walaupun banyak sahabat mengatakan perlakuan kaum qurais telah menghina beliau. jadi jika ente mengikuti jejak rasulullah yah ente ga perlu emosi seperti sekarang. Ana setuju dengan ‘AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR’ kalau ada yang menyimpang, maka dari itu ana menasehati ente juga, bukaah Islam mengajarkan saling nasehat menasehati?

    “ketika ramai-ramai, kekayaan alam INDONESIA dikuasai asing, ketika korupsi merajalela, ketika Pornographi membudaya, umat harus AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR, supaya semua sejalan dengan syariat Islam.”

    Islam mengajarkan bagaimana ber-AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR terutama jika ada ulil amr (pemimpin kaum/pemerintah).

    ana pikir HTI lebih di identikan dengan demo turun ke jalan. Jika HTI merasa harus ber-AMAR MA’RUF dan NAHI MUNKAR, mengapa tidak berusaha membantu pemerintah mempercepat konversi minyak tanah ke gas,misalnya, karena sudah jelas gas jauh lebih murah dan tanpa subsidi.

    “Tugas Buletin Al-Islam, kalau mau dibaca betul-betul oleh Sodara-Sodara maka akan ketemu benang merahnya.

    siapa yang bereaksi paling keras terhadap upaya disintegrasi terhadap INDONESIA seperti Timor-timor, Papua, aceh tidak lain adalah HTI.

    baca arsip AL-ISLAMNYA … (jangan2 dirobek-robek)”

    ana fikir tulisan ente yg ini ga jelas dan gak nyambung dengan diskusi kita, sepertinya ente takbisa mengendalikan arah tulisan ente…

    “jadi HTI hakekatnya juga membela INDONESIA.
    mana reaksi orang liberal ketika ada upaya disintegrasi ?
    HTI ingin menyatukan kaum muslimin bukan sebaliknya memecah-belah.
    yang memecah belah itu orang-orang asing dan para kompradornya”

    maaf ya hudi, tapi ana masih meragukan hakekat HTI, membela Indonesia, membela umat Islam Indonesia, atau hanya mencari kekuasaan di Indonesia. karena juga ente fikirkan, HTI adalah gerakan politik, gerakan politik cuma punya satu tujuan, KEKUASAAN.

    masalah ‘orang liberal’, ana pikir ente sendiri yg melebeli mereka, ente yg mendefinisikan, tapi sepertinya ente sendiri ga tau siapa saja orang2nya berdasarkan definisi ente. ana sendiri hanya bisa tersenyum kalo ada yng bilang kaum liberal itu si ulil, si SBY, si syafii maarif, si Gus dur, dan si si yg lain…

  10. habibhasan

    “Kalau bicara ‘MAKAR’ yang hakiki
    Makar kepada Allah SWT dan Rasulnya
    Taruhannya dunia akhirat

    – orang yang meragu-ragukan Al-Quran dan Sunnah
    – tidak menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman
    – tidak taat terhadap perintah Allah dan Rasul (Al-Quran dan Sunnah)
    – tidak rela kalau ajaran Islam membumi dan mendominasi
    – benci dengan syariat Islam
    – terhadap ulama bencinya bukan main (ANTI MUI)
    – dst. dst.”

    ya hudi,
    itu kan kata ente…Qur’an ngga ngomong gitu.

  11. hudi

    Bung HabibHasan

    itu kan kata ente…Qur’an ngga ngomong gitu.

  12. rian

    yaHUDI… Al-Islam yang ente agung-agungkan itu cuma satu benang merahnya : PROPAGANDA

    Semua hal hti sambung2in dengan Khilafah…. dari mulai masalah kekayaan alam INDONESIA dikuasai asing, korupsi merajalela, Pornografi… menurut hti solusinya cuma satu :
    KHILAFAH (itu pun versi ente!) Ini bukti sempitnya dunia hti.

    yaHUDI… Kalo ente bilang hti peduli Indonesia… nyatanya ente lebih peduli ada YAHUDI ngegusur rumah orang Palestina daripada pemda ngegusur masyarakat miskin dibawah kolong tol! Sori ya… ga ada kontribusi RIIL hti!!! jadi terus terang ana ga percaya.

    yaHUDI… kalo ente bilang mana reaksi orang liberal ketika ada upaya disintegrasi? inilah salah satu reaksi kami ketika ente mencoba makar dan menyetujui tindakan temen2 kongkow ente memerangi anak2 bangsa di AMBON. Tanpa sadar entelah bagian dari komparador2 asing yang ente sebutkan itu…

  13. belito

    hti itu kalo dalam pelajaran Biologi SMP saya dulu namanya SIMBIOSIS PARASITISME… artinya BENALU!

    Why?
    Hidup di Indonesia… tapi ideologinya luar punya!
    Sumber dana… juga luar punya!
    Mimpi punya Khilafah… Daulah… tapi tanahnya punya orang! rakyatnya punya orang!
    Mimpi punya masjid… tapi masjidnya punya NU!

    BENALU BANGET GITU LOHH!!!

  14. hudi

    lucu semua deh lo

    Khilafah ada dalil nashnya kenapa sodara-sodara benci

    itu yang mengatakan nabi, kenapa anda mengkhianati nabi
    (jangan pilih-pilih dalil dong)

    Khilafah Pasti Kembali Dengan Izin dan Pertolongan Allah
    Tepat 28 Rajab 1429 H ini, kita telah memperingati 86 tahun momentum yang paling menyakitkan bagi umat Islam di seluruh dunia, yaitu runtuhnya Khilafah. Tanggal 28 Rajab 1342 H, bertepatan dengan 3 Maret 1924, Kemal Attaturk (seorang agen Inggris), secara resmi membubarkan Kekhilafahan Turki Utsmani. Malam harinya, tengah malam, Khalifah Islam terakhir, Sultan Abdul Majid, diusir!

    Empat bulan kemudian, 24 Juli 1924, Perjanjian Laussane ditandatangani. Di antara isinya, Inggris mengakui kemerdekaan Turki sekaligus menarik pasukannya dari Turki. Merespon sikap Inggris ini, seorang perwira Inggris saat itu memprotes Menteri Luar Negeri Inggris, Curzon. Dengan enteng Curzon menjawab, “Yang penting, Turki telah kita hancurkan dan tidak akan pernah bangkit lagi, karena kita telah menghancurkan kekuatan spiritualnya, yaitu Khilafah dan Islam!” (Zallum, 2001: 184).

    Curzon benar. Setelah sekitar 84 tahun menjadi republik, menerapkan hukum-hukum Barat sekular, dan membuang hukum-hukum Islam, Turki memang tidak pernah bangkit; kemakmuran tidak pernah terwujud; dan cita-cita untuk menjadi negara modern seperti Eropa tidak pernah terbukti. Turki bahkan nyaris bangkrut. Pada tahun 1994, 1 US$ dihargai 10.000 Turkish Lira (uang Turki). Pada tahun 2004, 1 US$ setara 1.500.000 Turkish Lira. Turki telah lama mengalami mega inflasi (di atas 100% pertahun). Di Turki ongkos naik bis kota pernah mencapai sejuta! (Fahmi Amhar, 2004).

    Bandingkan kondisi Turki saat masih dalam wadah Khilafah dan menerapkan syariah. Tentang Kekhilafahan Turki Utsmani, Paul Kennedy, seorang pemikir Barat, menulis, “Imperium Utsmani lebih dari sekadar mesin militer; ia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa pada sebuah area yang lebih luas dibandingkan dengan yang pernah dimiliki oleh Imperium Romawi…” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000).

    Kehebatan dan keagungan Khilafah Islam bukan hanya pada masa Turki Utsmani, tetapi juga pada masa-masa Kekhilafahan sebelumnya, baik Abbasiyah, Umayah dan tentu saja masa Khulafaur Rasyidin. Tentang ini, Paul Kennedy, kembali menulis, ”Dalam beberapa abad sebelum tahun 1500, Dunia Islam telah jauh melampaui Eropa dalam bidang budaya dan teknologi. Kota-kotanya demikian luas, rakyatnya terpelajar, perairannya sangat bagus. Beberapa kota di antaranya memiliki universitas-universitas dan perpustakaan yang lengkap dan memiliki masjid-masjid yang indah. Dalam bidang matematika, kastografi, pengobatan dan aspek-aspek lain dari sains dan industri, kaum Muslim selalu berada di depan.” (Paul Kennedy-The Rise and Fall of The Great Powers: Economic Change an Military Conflict from 1500 to 2000),

    Kepastian Kembalinya Khilafah

    Meski sedemikian fakta sejarah membuktikan, dan pengakuan pun datang bukan hanya dari pakar Islam, tetapi juga pakar non-Muslim, tetap saja ada pihak yang meragukan kembalinya Khilafah. Bahkan ada yang menganggap kembalinya Khilafah itu mustahil, dan orang yang hendak menegakkannya kembali itu bagaikan tengah berfantasi.

    Berkaitan dengan soal di atas, perlu kami tegaskan di sini, bahwa orang yang mengatakan bahwa Khilafah tidak akan bisa tegak itulah yang justru tengah berfantasi. Dengan izin Allah, Khilafah akan tegak kembali. Keyakinan ini ditopang oleh empat perkara:

    Pertama, jaminan dari Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih untuk memberikan kekuasaan di muka bumi, sebagaimana yang pernah diberikan kepada para pendahulu mereka.

    وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون

    Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal salih di antara kalian, bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS an-Nur [24]: 55).

    Kedua, kabar gembira dari Rasulullah saw. berupa akan kembalinya Khilafah Rasyidah ala Minhaji Nubuwwah (berdasarkan metode kenabian), setelah fase penguasa diktator pada zaman kita ini., Nabi saw. Bersabda, sebagaimana dituturkan Hudzaifah al-Yaman:

    « تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ ».

    “Akan ada fase kenabian di tengah-tengah kalian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase Khilafah berdasarkan metode kenabian. Dengan kehendak Allah, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Kemudian akan ada fase penguasa yang zalim, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Lalu akan ada fase penguasa diktator, ia akan tetap ada, kemudian Dia akan mengakhirinya, jika Dia berkehendak untuk mengakhirinya. Setelah itu, akan datang kembali Khilafah ala Minhajin Nubuwah (berdasarkan metode kenabian).” Kemudian Baginda saw. diam. (HR Ahmad).

    Ketiga, umat Islam yang hidup dan dinamis tentu akan menyambut perjuangan bagi tegaknya Khilafah dan siap mendukung perjuangan ini hingga Allah mewujudkan janji-Nya. Setelah itu, mereka akan bahu-membahu merapatkan barisan untuk menjaga Khilafah. Sesungguhnya umat ini diturunkan sebagai umat terbaik (khayra ummah), yang akan selalu bergerak untuk mewudukan predikat itu. Allah SWT berfirman:

    كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

    Kalian adalah umat terbaik, yang dihadirkan untuk seluruh umat manusia. Kalian harus menyerukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran serta tetap mengimani Allah. (QS Ali ‘Imran [3]: 110).

    Keempat, adanya partai (hizb) yang ikhlas, yang terus bekerja dengan sungguh-sungguh siang dan malam bagi tegaknya Khilafah semata karena hingga janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. itu benar-benar terwujud. Partai itu, sikapnya lurus, tidak pernah takut terhadap cacian orang yang mencaci, tuntutannya tidak pernah melunak serta tekadnya tidak pernah melemah sampai cita-citanya tercapai. Seolah-olah ini membenarkan sabda Nabi saw., sebagaimana dikeluarkan Muslim dan Tsauban:

    « لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظاَهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ…»

    Akan selalu ada satu kelompok dari umatku, yang selalu memperjuangkan kebenaran. Mereka tidak akan bisa dinistakan oleh siapa pun yang menistakan mereka, hingga urusan Allah ini menang, dan mereka pun tetap seperti itu.

    Sesungguhnya berdasarkan satu faktor di atas saja cukup untuk menyatakan bahwa perjuangan demi tegaknya Khilafah bukanlah fantasi. Lalu bagaimana jika keempat fakta tersebut menyatu?

    Tegaknya Khilafah adalah Cita-cita dan Perjuangan Umat Islam

    Dalil-dalil yang membuktikan kewajiban untuk menegakkan kembali Khilafah sangat banyak, baik al-Quran, as-Sunnah maupun Ijmak Sahabat. Itu sudah sering dan berulang kami kemukakan dalam berbagai kesempatan. Karena itu, kami tidak perlu mengemukakannya kembali. Apalagi masalah ini merupakan perkara ma’lûm min ad-dîn bi ad-dharûrah (urusan agama yang sudah diyakini urgensitasnya).

    Karena itulah, lihatlah sejarah dengan jujur, sejak Baginda Rasulullah saw. wafat, umat Islam berturut-turut mengangkat para khalifah; mulai dari Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib); Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah. Selama berabad-abad umat Islam tidak pernah putus di tengah jalan untuk terus mempertahankan Khilafah. Mereka tidak pernah menunda pengangkatan khalifah baru jika khalifah sebelumnya wafat. Konsistensi sikap umat Islam ini tidak lepas dari kesadaran mereka akan wajib dan urgennya Khilafah bagi umat Islam. Ini sekaligus membuktikan kebenaran sabda Rasulullah saw.:

    «وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ »

    Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku; yang akan ada adalah para khalifah dan mereka berjumlah banyak. (HR al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah dan Ahmad).

    Alhamdulillah, kini umat Islam pun paham, bahwa Khilafah telah menjadi satu-satunya tuntutan mereka. Umat pun telah merindukannya. Ditambah lagi dengan fakta dan peristiwa yang terjadi akibat ulah negara-negara kafir penjajah—baik di Irak, Afganistan maupun Palestina—seperti kezaliman, pembunuhan, perampokan kekayaan alam dan upaya memperbudak rakyatnya untuk memuaskan nafsu penjajahan mereka. Semuanya itu terekam dengan baik dalam benak umat, dan mereka sadar, bahwa umat ini membutuhkan kekuatan. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan Khilafah. Dengannya umat Islam di seluruh dunia ini akan bersatu padu sebagai satu umat.

    Mereka juga sadar, bahwa umat Islam ini adalah satu; akidah mereka satu; agama mereka satu; al-Quran mereka satu; kiblat mereka satu; syariah mereka satu; dan kepemimpinan mereka pun—sebagaimana yang dituntut Allah dan Rasul-Nya—harusnya satu. Itulah Khilafah Islam. Kesadaran itu kini bagaikan bola salju yang terus menggelinding. Karena itu, kembalinya Khilafah tinggal soal waktu. Semuanya ada di tangan Allah. Karena itu, hanya dengan izin dan pertolongan Allah, Khilafah pasti akan tegak kembali! Wallahu a’lam. []

    • hasan wahyudin

      saya percaya dengan hadits dan ayat Qur’an yang disampaikan hudi tapi saya belum percaya dengan hudi apakah hudi ini ahli dalam bahasa arab ? apakah semua tafsir sudah di baca sehingga begitu cepat mengambil kesimpulan bahwa Org2 yang beriman akan memimpin dunia pada nyatanya, sekarang amerika yang memimpin dunia

  15. rian

    ya HUDI… Khalifah hti yang saya benci karena metodenya ga akan menghasilkan Khilafah ala minhajin nubuwwah, yaitu khilafat yang mengikuti nubuatan (Allah swt), Kalo dalam bahasa ente metode kenabian.

    Ente bilang khilafat Turki-lah, Abasiyyah-lah… itu semua bukan Khilafat minhajin nubuwwah. Karena ente sudah mengangkat nash HR Ahmad coba petakan khilafat yang ente sebut itu kedalam empat fase itu. Menurut saya, khilafat minhajin nubuwwah itu adalah fase Khulafaur Rasyidin karena cuma itu yang mengikuti kenabian Muhammad saw, setelah itu non-sense… cuma kerajaan!

    So tell me now… bagaimana hti akan membuat khilafat yang mengikuti nubuatan kenabian, sedang nabi itu HANYA diutus Allah swt? (dan BUKAN HTI!!!)

  16. Khathath bin kotot

    ya setuju dg @rian…

    kenabian itu domainnya TUHAN, bukan manusia… so Khilafat minhajin nubuwwah pun domainnya TUHAN. Bukan hti

    Jadi… emang mandat apa yang diterima hti dari TUHAN?

  17. hudi

    Selamat menjalankan Ibadah Puasa

    Mohon Maaf Lahir dan Batin

    Hudi Ya

  18. reza

    Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah bukanlah sistem khilafah tetapi sebuah dinasti atau kerajaan ! Benar pernyataan Bung Habib, ngapain susah-susah HTI bermimpi mendirikan Khilafah, tengok saja Ahmadiyah, kekhalifahan mereka sudah ada selama 100 tahun. Jangan-jangan inilah kekhalifahan sejati, sementara kaum HTI hanya bermimpi saja.

  19. rangga ahmad

    * Muqaddimah

    Membongkar Kesesatan Hizbut Tahrir (I)

    Posted on Juni 9, 2008. Filed under: HT (Hizbut Tahrir) | Tags: Agama, Aqidah, Article, Biografi, Hadits, Hukum, Islam, Islami, Muslim, Pemikiran, Pendidikan, Qur’an, Religi, Renungan, Sufi, tasawuf, Tokoh, Ulama |

    Selalu ada pergelutan antara al haq dengan al bathil. Dan Allah telah mengirimkan sekelompok orang yang mempergunakan waktunya guna melindungi dan membela Dien ini (yaitu Al Qur’an dan As Sunnah). Di lain pihak, ada orang-orang yang mengaku dan merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan. Padahal Allah telah berfirman tentang mereka,

    “Dan ketika dikatakan pada mereka supaya jangan berbuat kerusakan di muka bumi ini dengan perbuatannya, mereka berkata ‘tapi kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Tapi sesungguhnya mereka adalah pembuat kerusakan namun mereka tidak menyadarinya”
    (Al Baqarah 11-12)

    Mereka adalah orang-orang yang berbahaya, karena mereka menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang melakukan perbaikan padahal kenyataannya mereka adalah perusak agama.

    Pada abad ke 20, yang merupakan akhir dari kerajaan ‘Ustmani, banyak bermunculan kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam, yang menyatakan bahwa masuk ke dalam dunia politik atau mengambil cara-cara politik adalah merupakan jalan atau cara terbaik guna menjaga martabat Islam dan umat Islam. Namun mereka tidak menganggap bahwa problem utama dari turunnya martabat Islam adalah kelemahan umat Islam. Kelompok-kelompok ini mendasari pemikiran-pemikirannya dengan berdasarkan pada tekanan-tekanan dan emosional, bukan dengan ilmu (agama), dan mereka tidak berusaha untuk mencari ilmu itu. Tingkah laku mereka semrawut, sehingga dengannya tercipta kekacauan.

    Usaha dakwah kepada Tauhid, dakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah tidaklah diambil dalam manhaj mereka, kecuali bila situasi politik memperbaiki keadaan umat. Mereka berkata “simpanlah dulu usaha-usaha dakwah semacam itu di rak-rak kalian sampai situasi politik kita memperbaikinya”. Padahal berjuta-juta orang menunggu pada dakwah al haq ini. Tapi mereka hanyalah memprioritaskan dakwah mereka untuk kembali pada khilafah. Sampai-sampai mereka menggantungkan semua hal dan tidak ada yang bisa dilakukan sampai khilafah kembali. Sehingga ketika mereka menyikapi orang-orang kuffar, mereka berkata “biarkan mereka masuk neraka”, kenapa mereka berkata demikian? “Karena orang-orang kuffar itu telah merebut tanah-tanah kaum muslimin”, menurut mereka. Padahal dakwahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah demikian. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memprioritaskan dakwah kepada tauhid kepada umat manusia, walaupun nantinya hanya satu orang yang mengikuti beliau.

    Sebenarnya banyak dari musuh-musuh Islam yang menjadi pemimpin-pemimpin kaum Muslimin (dikarenakan lemahnya pemahaman umat Islam akan dakwah al haq) , ini seharusnya tidak boleh dilupakan oleh kita. Dan orang-orang kuffar menyadari hal ini, sehingga mereka mendukung misionaris-misionaris agama mereka yang membuka jalan atau kesempatan untuk masuk ke dalam komunitas muslimin. Dan seharusnya kitalah, Umat Islam, yang melakukan hal tersebut, yaitu mendakwahi orang-orang kuffar itu sehingga mereka masuk Islam, yang dengan masuknya ke dalam Islam ini dapat memasukkan dia ke dalam surga dan menyelamatlannya dari neraka. Tapi para “politisi” kita, seperti Hizbut Tahrir dan yang lainnya, tidaklah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang harus dipertimbangkan.

    Orang-orang (kelompok-kelompok) itu hanyalah berbicara tentang konspirasi-konspirasi yang dilakukan barat, invasi kebudayaan, bagaimana umat Islam diserang oleh kaum kuffar lewat buku-buku, sekolah-sekolah dan lain-lain. Padahal sebenarnya sudah ada jenis invasi lain yang mengambil tempat di tengah-tengah muslimin, yang sudah terjadi mulai berabad-abad yang lampau sampai sekarang, yaitu Sufisme dan Ilmul Kalam. Jenis invasi ini membajak agama yang didalamnya terdapat kesesatan-kesesatan. Malah sekarang orang-orang mengajarkan kesesatan-kesesatan ini di sekolah-sekolah Islam, bahkan ada yang menjadi sarjana di bidang ini dan lain-lain. Maka invasi itu tidak hanya invasi kebudayaan dari barat saja, tapi kita pun harus mengetahui jenis invasi ini.

    Hal lain yang harus kita perhatikan adalah mencari sebab-sebab keruntuhan umat. Karena keruntuhan umat itu tidaklah terjadi kecuali disebabkan oleh hal-hal tertentu yang menjadikan kenapa hal ini terjadi. Tapi orang-orang ini berkata “Tidak ada yang salah padamu, ini semua adalah tanggung jawab orang-orang kuffar sehingga semua ini terjadi, karena mereka menolak hukum Allah”. Padahal jika kita, umat Islam, pun tidak mematuhi hukum Allah, maka Allah pun mempunyai hukum untuk menghukum kita.

    Diantara kelompok-kelompok yang memakai cara-cara politik itu adalah Hizbut Tahrir. Mereka, orang-orang Hizbut Tahrir, ini mempunyai ciri-ciri yang khas dalam setiap pembicaraannya, diantaranya yaitu selalu mendengung-dengungkan masalah khilafah, Adzab Kubur dan Hadits Ahad (maksudnya adalah mereka menolak adanya adzab kubur dan hadits ahad). Itulah ciri-ciri khas dari Hizbut Tahrir. Mereka mengajarkan bahwa hal tersebut adalah merupakan sesuatu yang harus prioritaskan. Mereka berkata “jika kamu tidak berusaha untuk menegakkan khilafah, maka kamu musyrik”, apakah mereka berkata demikian? Ya, karena kamu tidak berusaha untuk menegakkan khilafah!!!. Lalu apakah kaum muslimin pada masa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah dan belum hijrah ke Madinah, mereka itu musyrik?

    Perlu diperhatikan sebelum kita masuk ke dalam permasalahan yang akan kita bicarakan ini. Hendaknya diingat bahwa hal yang kita lakukan ini adalah dalam rangka perbaikan diri, terutama pada diri-diri kita sendiri. Sebab kita memang membutuhkan koreksi. Oleh karena itu, hanyalah orang-orang yang memerlukan pada perbaikan diri akan mendengarkan (membaca) penjelasan ini, sedangkan orang-orang yang fanatik tidak akan mendengarkan dan menghiraukannya.

    Ketika orang-orang sibuk melakukan bantahan terhadap syubhat-syubhat Hizbut Tahrir, ada satu hal yang sering luput untuk diperhatikan dan tidak diketahui oleh mereka. Yaitu tentang aqidah yang dianut pendiri Hizbut Tahrir ini. Pendiri kelompok ini adalah seorang yang beraqidah asy’ariyah maturidiyah, dan dia menyatakan bahwa orang-orang asy’ariyah maturidiyah sebagai Ahlut Tauhid wa Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ini adalah salah satu yang harus kita bongkar terlebih dahulu dari kelompok ini, bukan hanya membahas permasalahan-permasalahan mereka dalam mengingkari hadits ahad dan adzab kubur atau dakwahnya kepada penegakkan khilafah saja. Mereka mempunyai hal yang lebih sesat dari itu semua, seperti pemakaian ilmul kalam dalam membahas setiap permasalahan agama. Padahal A’imah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti Imam Asy Syafi’i dan Imam Abu Hanifah telah membantah ilmul kalam itu. Mereka mencap orang-orang yang mempelajari ilmul kalam itu sebagai mubtadi’, yang harus dihukum cambuk dan dimasukkan ke penjara serta ditahdzir.

    Pendiri Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An Nabhani. Dia adalah merupakan salah satu cucu dari Yusuf bin Isma’il An Nabhani, yang dia (Yusuf) ini adalah seorang yang sangat berlebihan pada Sufisme. Yusuf Isma’il mempunyai (mengarang) banyak kitab, diantaranya adalah Jami’ Karamatul Awliya’. Kitab ini didalamnya berisi banyak cerita-cerita “yang lucu”, salah satunya adalah Ali Al Amali, jika kita membacanya maka kita akan tertawa sekaligus menangis.

    Mereka (pengikut Hizbut Tahrir) menggelari Taqiyuddin sebagai mujtahid muthlaq, Apakah kamu pernah mendengarnya? [ya]. Lalu apakah yang mereka katakan tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Mereka katakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak seharusnya berijtihad. Apakah kamu pernah mendengar hal ini? Bahwa beliau tidak seharusnya berijtihad?.

    Maka kita katakan pada mereka, siapa yang paling sempurna satu sama lain yang berhak untuk melakukan ijtihad? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ataukah Taqiyuddin? Dia (Taqiyuddin) adalah majhul atau tidak dikenal, dia bukanlah siapa-siapa. Lalu bagaimana hal itu bisa dikatakan? Apakah kalian berpikir bahwa perbuatan kalian ini tidak akan diketahui? Allah memelihara agama-Nya dan barang siapa yang melakukan kedustaan dan kesesatan maka akan disingkapkan kedustaan dan kesesatannya itu dan dia akan dihukum. Pencuri, bagaimana mungkin seseorang menawarkan bid’ah kepada umat dan menyatakan bahwa kebid’ahan itu adalah sunnah, apakah dia tidak sadar dan takut akan dihukum? Allah lah yang akan menghukumnya.

    Taqiyuddin lahir di Ijzim, Palestina pada tahun 1909. Kemudian setelah dewasa, dia belajar Universitas Al Azhar sampai lulus. Setelah dia lulus, dia pergi ke Libanon dan Yordania, dan bekerja di universitas Islam sebagai tenaga pengajar sampai akhirnya dia mendirikan Hizbut Tahrir. Dia wafat pada tahun 1977. Dia memiliki (menulis) banyak kitab, seperti Risalatul Arab yang didalamnya terdapat kecenderungan pada nasionalisme, menunjukkan konsepnya tentang nasionalisme dan lain-lain. Walaupun dia menyatakan menarik kembali konsepnya itu, namun yang nyata bagi kami, dia tidak secara tegas menyatakan hal tersebut di kitab-kitabnya yang terakhir. Karena kitab Risalatul Arab merupakan salah satu kitab pertama yang dia tulis.

    Aqidahnya, seperti yang telah disinggung sebelumnya, adalah maturidiyah yang merupakan sebuah pemahaman sebuah firqah yang dinisbahkan pada Abu Manshur Al Maturidi, yang memiliki kesesatan yang lebih daripada Asy’ariyah. Dia menyebut a’imah dari firqah tersebut sebagai “Ahlus Sunnah wal Jama’ah”.

    Dalam salah satu tulisannya, yang didalamnya terdapat pernyataan yang sebenarnya adalah merupakan imitasi dari perkataannya Ar Razi (seorang tokoh dari ahlul kalam). Dia berkata bahwa kita tidak bisa menerima Al Qur’an sampai terpenuhinya 10 syarat, dan salah satu syaratnya itu adalah Al Qur’an itu harus disesuaikan dengan ‘aql. Ini merupakan perkataannya Ar Razi.

    Dia juga menulis dalam kitabnya Asy Syakhsiyyah Al Islamiyyah III/132, yang tulisannya membuktikan akan ke-maturidiyah-annya dan ke-asy’ariyah-annya. Dia men-ta’wilkan beberapa sifat Allah, seperti tangan Allah yang dia artikan sebagai kekuatan atau kekuasaan. Padahal kita temukan dalam kitab Syarhul Fiqhul Akbar Abu Hanifah halaman 33, disitu dikatakan bahwa tidak boleh untuk men-ta’wilkan tangan Allah sebagai kekuatan atau kekuasaan. Dan juga dalam kitab Tabyin Khadibul Muftari halaman 150, disana terdapat perkataan dari Imam Asy’ari (Abul Hasan Al Asy’ari) sendiri bahwa tidak boleh menyatakan atau meng-qiyaskan tangan Allah itu sehingga artinya adalah kekuatan atau kekuasaan. Sebab itu adalah perkataannya Mu’tazilah, salah satu firqah yang paling sesat.

    Jika kita membuka kitab Syarh Ushulul Khomsah Al Mu’tazilah halaman 228, disana akan ditemukan perkataan salah satu imam dari mu’tazilah yaitu Al Qadhi ‘Abdul Jabbar, yang berkata bahwa manhaj “ahlus sunnah” adalah meyakini bahwa tangan Allah itu maksudnya adalah kekuasaan atau kekuatan.

    Maka permasalahan inilah yang harus kita bahas terlebih dahulu, janganlah kita berbicara tentang syubhat-syubhat mereka tentang khilafah, hadits ahad, atau ‘adzab kubur, tapi mari kita bahas tentang at ta’wil yang mereka lakukan.

    Imam Abu Ja’far Ath Thahawi (penulis kitab Aqidah Thahawiyah) mengatakan bahwa ta’wil yang terbaik adalah meninggalkan ta’wil dan hanya mencukupkan pada nash (Al Qur’an dan As Sunnah) dan apa yang ada (disepakati) oleh Jama’atul Muslimin. Lalu, bagaimana bisa mereka, tukang ta’wil, dikatakan sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah padahal ucapan mereka bertolak belakang dengan ucapan Imam Ath Thahawi. Dan banyak lagi kesesatan lainnya.
    Bersambung ke Membongkar Selubung Hizbut Tahrir (II)

    (Dikutip dari terjemahan Membongkar Selubung Hizbut Tahrir, tulisan Syaikh ‘Abdurrahman Ad Dimasyqiyyah)

  20. Saya sdh kenyang berurusan dg agen2 HTI ini, mulai di kampus saya (HI Unair) hingga dunia maya (http://radixwp.multiply.com).

    Mereka punya modus operandi yg menggelikan. Mulanya, mereka berupaya menampilkan argumen2 rasional utk menguatkan konsep2nya (yg bagi mereka sendiri akan mereka terima scr mutlak). Ketika argumen2 tsb mulai terbantahkan, mereka lalu lari ke dalih klasik (“itu kehendak Tuhan yg tdk bisa dipahami oleh akal manusia”).

    Blm lagi double-standard mereka. Jk ada masalah dlm praktik khilafah, mereka berdalih ada penyimpangan. Sdgkan jk yg mengalami masalah adlh praktik liberal-sekuler, mereka mempersalahkan sistemnya. Pokoknya, bagi mereka, sistem mereka pasti benar & lainnya pasti salah.

  21. Ty_HaN MuT'Zzzz

    pEaCe MaN !!!!
    cINtA dAmAi .. .. ..
    DamAi itU inDaH Cuy’ .. .. ..

  22. Bhin

    Damai bung….
    Saya rasa keyakinan masing-masing orang sulit untuk disamakan.. (Tampaknya tidak ada satupun orang didunia ini yang punya keyakinan yang sama persis…pasti ada perbedaan meskipun sedikit. Maaf kalo salah..)
    Jika merasa cocok silakan diikuti/dicontoh… kalo tidak cocok, bisa didiskusikan dulu. Sudah mentok gak bisa sama.. ya sudah .. silakan sepakat untuk tidak sepakat…dan biarkan saja.. toh gak ngaruh sama kita.
    Seyogyanya merugikan orang lain dihindari. Baik itu berupa ucapan ataupun tindakan.
    Ini pendapat saya,.. kalo berkenan.

  23. yusufkalau

    waduh,.
    sepertinya sulit mendamaikan dua kelompok ini (sekuler/liberal dengan “fundamentalis/ekstrimis”)

    saling membenarkan prinsipnya
    saling menjatuhkan lawannya
    saling berebut simpati, memperbanyak kawan dan barisan
    mungkin nantinya saling serang fisik.. (seperti zaman rasulullah di Madinah), saling perang…
    jadi kita saksikan saja siapa pemenangnya oke?
    dan Allah pasti menolong pihak yang benar, iya kan?

    eh ngomong ngomong pilih di pihak yang mana nih ya?
    pilih yang di ridhoi Allah, setuju?

    “sekuler/liberal” kah?
    “fundamentalis Islam” kah?
    itu pilihan anda.. jangan plinplan.. buka fikiran anda.. pilih dengan tegas, jangan sampai syaiton dan pengikutnya menipu anda!

  24. haheho

    assalamu’alaikum…

    saya bukan org HTI dan bukan juga pendukung mereka, karena yang saya tau dari org2 salafy, mereka tak mengakui hadis ahad..
    Tapi saya mendukung penegakan khilafah dan syariat islam di Indonesia.

    DAN SAYA LEBIH TAK SETUJU DAN SEPENDAPAT DENGAN ISLAM LIBERAL YANG SANGAT MENYESATKAN UMAT …

  25. saya lebih kenyang lagi denga komentar2nya sodara Radiw XP

  26. Saya sangat setuju sekali dengan Negara Kekhalifahan. insya Allah akan terlaksana tidak terlalu lama lagi. Amiin.

  27. Haryo

    Kita diberi makan dari tanah ini republik indonesia kenapa kita tidak malu.Apapun keterangan dan sanggahan2 yang ada semua pepesan kosong dan sok pintar.Kalau mau membuat ideologi sendiri jangan di republik ini,sana cari tempat sendiri diluar Republik Indonesia.Sampai kapanpun tidak akan terwujut apa yang menjadi cita2 HTI.Ini Republik Indonesia yang telah diperjuangkan matian oleh pendahulu kita.Jangan mimpi bung Allah pun tahu kalau keinginan HTI terlaksana semua akan menjadi kacau,bukan tambah baik.Percayalah Allah melihat hati manusia,dan segala rencanaNya.Sudah ada puluhan negara dengan menjalankan syariat Islam.Semuanya kagak beres.Tidak ada yang benar,hanya kekacauan,dan pembantaian,dan saling bunuh.Itu yang saudara2 cita2kan?IDIOT

  28. asal.com

    blog ini membawa permusuhan antar umat muslim..
    sebaiknya buat blog yang bermanfaat.. :P

  29. wahyu

    Kawand2 sekalian… Biarkanlah orang HTI bergerak dan berkoar2 dengan Khilafahnya.. kita yang Salafi urus bid’ah dan dakwah, yang wahdah juga, yang PKS , PPP dn partai islam lainnya urus keislaman di pemerintahan, Jama’ah Tabligh urus di mesjid2.. Jika kita bersama2maka kebersamaan itu indah.. TANPA ADA SALING MENCELA DAN MENGHINA… MAri sama2 tegakkan islam dengan cara masing2. ingat jangan ada unsur hinaan.. meskipun sebenarnya banyak fakta di atas yang benar, tapi menegur dengan cara yang baik juga di perknannkan.. :)

  30. nurtumai ib

    saya sependapat, banyak jalan menuju roma, namun hendaknya jalan itu adalah jalan yg dirido,i Allah. dawah, amar ma.ruf nahi mungkar punya dalil naqli, jadi kalo kita yakin Qur an Hadist, pastinya kita tak perlu berdebat yg justru menjauhi kita ummat yang Satu.




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: